Sejak tadi Riani sibuk mengaduk-aduk es teler yang disajikan di mangkuk putih. Dia belum menyendok sekali pun isi es teler ke mulutnya. Tangan kirinya menopang dagu dengan tatapan kosong mengarah ke mangkuk.
Sementara Sonya dan Gina berbeda, mangkuk es teler mereka berdua sudah hampir habis.
Karena melihat Riani seperti sedang mempunyai masalah, maka Sonya pun tak dapat menahan rasa ingin tahunya akan apa yang sedang dihadapi Riani.
"Riani, Sonya nanya tuh!" Gina memanggil Riani, tangan kirinya tak lupa mencolek lengan kanan Riani.
Gina duduk di sebelah kanan Riani, sementara Sonya duduk seorang diri berhadapan Riani. Mereka bertiga mengambil tempat duduk di belakang dan dekat jendela, hingga kalau mereka mau bisa melihat situasi di luar yang sedang turun hujan.
"Eh, iya .... Kamu barusan tanya apa?" Riani kaget dan menatap Sonya, dia bertanya balik pada salah satu teman baiknya itu.
"Kamu sepertinya ada masalah, kok dari tadi ngaduk es teler terus? Kalau ngaduk telur bisa jadi telur dadar, ngaduk adonan tepung campur bahan lainnya bisa jadi kue. Nah, ngaduk es teler bakal jadi apa? Yang ada cuma hancur tuh isi es teler nya," ucap Sonya panjang.
Di antara mereka bertiga, Sonya yang paling bawel. Tapi karena kebawelan Sonya, Riani merasa sedikit terbantu.
Dulu waktu belum berteman dengan Sonya, Riani termasuk boros jajan, pas ketemu Sonya hal itu bisa diredam.
"Nanti saja kalau mau boros jajan, pas bisa dapat uang sendiri dari jerih payah kita. Kasihan orang tua kita, siapa tahu uang jajan lebih yang kita minta itu sebenarnya buat keperluan lain, tapi karena kita merengek dan menuntut, mereka kasih juga, ujungnya untuk menutupi pengeluaran lain bisa lewat hutang atau lebih parah korupsi!" ucap Sonya panjang kala itu.
Riani pun akhirnya mengembalikan lagi kartu kredit dan ATM yang diberikan khusus untuk uang jajannya pada Aris. Dia hanya meminta uang jajan secukupnya.
Tapi itu dulu, sekarang ketika tahu Aris dan Ratih bukan orang tua kandungnya, Riani berpikir apa tak sebaiknya dia seperti dulu saja, boros dan foya-foya.
Takutnya Riani, setelah kedua orang tua angkatnya mengumumkan dirinya di adopsi, dia tak akan dapat apa-apa dari mereka.
Sungguh pemikiran yang dangkal dan kekanak-kanakan dari Riani. Dia masih sekolah di tingkat akhir, masih ada waktu untuk kuliah, jadi berpikir tentang tak mendapat hak warisan masih terlalu cepat baginya.
Tanpa sepengetahuan Riani, sebenarnya Aris sudah memberikan hak waris yang tercatat dan tersimpan di notaris, hak yang akan menjadi milik Riani dalam dua kondisi. Riani akan mendapat bagian saham perusahaan di mana Aris menjadi direktur utamanya, ketika sudah dianggap pas momennya, lalu ketika Aris meninggal dunia pun ada bagian untuk Riani.
"Loh, masih bengong, jawab tuh!" Gina kembali mengingatkan Riani.
Riani yang kembali tenggelam dalam lamunan, sadar kembali. Beda dengan Sonya yang cerewet, Gina lebih riang cuma tak bawel.
"Maaf, lagi banyak pikiran," ucap Riani pelan.