"Loh, kamu punya tanda lahir kok merah?" tanya Tia heran, menatap pundak kiri Runi.
Saat itu Runi sedang mengganti baju selepas mandi. Kebetulan Tia masih ada di kamarnya, sementara Roy diajak pergi sama neneknya ke taman. Rudi pun tak ada di rumah, entah ke mana dia tak pamit dan tak memberi tahu kepergiannya, main nyelonong saja.
"Iya, nih. Aku juga heran!" Runi telah selesai memakai baju, dia memilih kaos oblong besar. Kan tak pergi ke mana-mana ini.
Kemudian mereka berdua pun berjalan keluar dari kamar. Rencananya mereka ingin duduk di teras, menunggu tukang bakso cuanki lewat.
"Oya, gimana Runi, kamu setuju kan kerja bareng aku?" tanya Tia.
"Ya, kenapa tidak? Aku kan juga butuh uang. Semakin hari, Roy semakin besar. Jadi pengeluaran pun akan jauh lebih besar," ucap Runi menatap Tia, lalu mengalihkan pandangan ke langit yang sudah bersih dari awan hitam.
"Kamu ya, Roy seperti anakmu saja! Beruntung Roy punya ibu seperti kamu." Tia menggenggam tangan kiri Runi.
"Mau bagaimana lagi. Setelah kematian Papa dan Mama nya Roy, aku memutuskan untuk mengambil alih." Runi kembali menatap Tia yang duduk di samping kirinya itu.
"Iya, apa alasan kamu memilih untuk membesarkan Roy?" tanya Tia mau tahu.
"Kalau bukan aku, siapa lagi? Apa Roy harus tinggal sama Neneknya? Atau sama Pamannya? Kayaknya tak mungkin, Roy lebih dekat kepadaku," jelas Runi.
"Lebih dekat, karena sejak kecil dia sama kamu kan? Jadi dia sudah merasa kamu itu anaknya."
"Nah, itu kamu tahu, kenapa bertanya?" Runi lalu tertawa.
Tia juga ikut tertawa.
Lalu tawa mereka berhenti karena telinga mereka mendengar suara ketukan khas pedagang cuanki lengkap dengan suara pedagang baksonya yang berteriak menawarkan dagangannya.
Runi bergegas turun dari bale dan berdiri menunggu pedagang cuanki lewat depan rumahnya.
"Asep, bakso cuanki nya dua!" teriak Runi kencang.
"Oh, iya Teh Runi. Tapi kok, cuma dua? Masa buat Ibu sama Bang Rudi nya nggak dibeliin?" tanya Asep yang berdiri berhenti di depan rumah Runi.
"Mereka semua pergi, Roy juga pergi!" jawab Runi.
Lalu Runi duduk kembali di bale.
"Teh, pedes nggak?" tanya Asep yang sudah menurunkan pikulannya.
Asep berjualan bakso cuanki memakai pikulan, jauh lebih nyaman dibanding memakai gerobak. Karena gang rumah tempat tinggal Runi kan sempit. Kalau pakai gerobak, bakal menggangu pengguna jalan lain.