Aku masuk ke dalam apartemen setelah beberapa saat berhenti tepat di depan pintu. Lampu ruangan hidup. Ku lemparkan hand bag ke atas sofa sudut berwarna ungu yang berada di ruangan ini. Sembari menghembuskan nafas, ku lepas ikatan rambut dan membiarkannya terurai begitu saja.
"Aku harus bisa melupakan kejadian itu. Azhar saja sudah melupakannya, kenapa aku masih mengingatnya? Lagipula, ini adalah kesalahan yang tak bisa dimaafkan. Aku harus bisa!" gumamku dengan nada tegas. Ku langkahkan kaki menuju kamar mandi dan melepas satu persatu pakaianku. Ku hidupkan kran air dan mengisi bath up dengan air panas. Setelah penuh, ku benamkan tubuhku yang tinggi semampai ke dalam kubangan air hangat itu. Berendam adalah hal yang lebih masuk akal sekarang.
Aku meraih handuk dan membalutkannya di kepala. Siapa yang datang di jam segini dan mengganggu ritual berendamku? Aku melangkah cepat menuju pintu. Sebelum membuka pintu, aku lebih memilih mengintip keluar melalui lubang kecil. Betapa kagetnya aku melihat seorang Azhar sedang berada di depan apartemenku. Oh, tidak! Untuk apa dia datang ke sini? Bukankah semuanya sudah selesai? Tanganku bergetar. Mulutku menganga heran. Apa yang harus ku lakukan sekarang? Membuka pintu ini atau membiarkan Azhar terus menunggu di luar? Aku benar-benar bingung. Sementara, bel apartemenku terus saja berbunyi. Ku tinggalkan pintu dan menjauh dari sana. Ku raih telepon genggamku dan menekan nomor Tamara. Namun, tidak! Tamara tidak boleh tahu tentang ini semua. Apalagi dia sedang menggilai Azhar sekarang. Lalu, aku harus bagaimana? Lelaki itu sedang di hadapanku sekarang. Sepertinya rasa keingintahuanku tentang keberadaan Azhar di sini lebih besar ketimbang harus membiarkannya menunggu. Aku mendekati pintu itu kembali dan berusaha tenang menghadapi kegugupan ini.
"Hai..." Suara Azhar terdengar empuk dan tenang menyapaku malam ini.
Aku tersenyum. "Erm... Kau... Di sini?" tanyaku seolah tak tahu bahwa Azharlah yang datang.
"Ya..." jawabnya seraya tersenyum.
Aku membalas senyumannya.
"Boleh aku masuk?" tanya Azhar kembali.
Aku kembali gugup. Aku lupa untuk mempersilakannya masuk ke dalam. Sembari memegang handuk di kepala, aku menyuruh Azhar masuk.
"Thanks..."
"Aku ganti pakaian dulu. Kau duduk saja di sofa!" seruku dan menunjuk sofa sudut.
Azhar mengangguk.
Dengan cepat, aku masuk ke dalam kamar. Hatiku kembali berdebar-debar. Ada apa ini? Mengapa Azhar datang kembali ke sini? Aku tidak bisa berpikir dengan tenang. Setelah memakai kaus berlengan dan celana pendek, aku keluar dari dalam kamar.
"Ada apa, Har?" tanyaku berusaha untuk tidak menaruh curiga padanya.
Azhar menoleh padaku. "Entahlah, tiba-tiba saja aku ingin melihatmu!"
Aku menelan ludah.
"Apa aku menganggumu, Nay?" tanyanya lagi.
Kepalaku menggeleng begitu saja. "Tidak! Kau tidak mengganggu kok!" seruku dengan cepat.
Azhar tersenyum. "Terima kasih..."
"Oya, kau ingin minum apa?"
Azhar memandangku dengan sangat dalam. "Apapun. Terserah kau saja!" sahutnya.
Aku semakin salah tingkah. "Baiklah, kau tunggu di sini!"
Azhar mengangguk.