DIA, AZHARKU

Nina Nola Boang M
Chapter #24

Bagaimana Ini?

Aku masuk ke dalam ruanganku sambil menunduk. Pagi ini rasanya sedikit tidak bersemangat. Masih tak bisa aku melupakan kejadian tadi malam. Apakah benar yang dikatakan Azhar? Apakah benar itu semua adalah isi hatinya? Apa yang sedang terjadi pada Azhar? Haruskah aku percaya dengan semua kata-kata pria itu? Sepertinya dia sedang tidak sadar dengan ucapannya.

"Nay!" panggil Tamara saat pintu hampir saja tertutup.

Aku meletakkan tasku di atas meja dan membalikkan tubuh ke arah Tamara. Ada yang berbeda darinya. Wajhanya tampak ceria dengan polesan make up yang sedikit charming.

"Akmal sudah menghubungimu? Kapan dia akan pulang? Apa dia baik-baik saja?" tanya Tamara dengan penuh semangat.

Aku mengangguk. "Ya, dia sudah menghubungiku."

"Kapan dia akan pulang?" tanya Tamara lagi.

Aku mengangkat bahu.

"Kenapa tidak kau tanya? Kau ini!" serunya dengan wajah cemberut.

"Kau merindukannya?" godaku sembari menyenggol lengan Tamara.

Tamara kembali tersenyum. "Menurutmu bagaimana?"

Aku mendelik. "Serius? Kau benar-benar merindukan Akmal? Apakah itu berarti... Kau...."

Tamara tertawa kecil. "Kapan dia akan pulang? Dia tidak mengatakannya padamu? Kau sahabatnya, kan? Atau lebih tepatnya kau adalah pujaan hatinya, kan?" tanyanya ulang padaku.

Aku menarik kursi dan duduk menghadap ke luar jendela. "Mungkin seminggu atau bisa jadi sebulan. Memangnya kenapa?"

"What???? Are you really?" Tamara melotot padaku.

Aku tersenyum simpul. "Aku juga tidak tahu. Akmal juga tidak bilang kapan dia akan pulang. Lagipula, aku tidak perlu tahu."

"Dasar!" gerutu Tamara.

"Kenapa kau tidak menghubunginya? Apa bedanya aku dan kau?" tukasku pada gadis itu.

"Of course, beda. Sangat beda. Tamara untuk Akmal hanyalah dedaunan yang berguguran di musim apapun itu. Sementara, Naraya untuknya adalah bunga yang selalu mekar di musim apapun itu..." jelas Tamara dengan penuh hiperbola.

"Nonsense!! Jangan suka membuat cerita yang tidak benar! Aku dan Akmal hanyalah teman, Ra. Tidak lebih dari itu!" jawabku sembari menengadahkan wajah ke luar jendela. Perkataan Tamara adalah benar, tetapi aku tidak ingin memberi harapan apapun pada Akmal.

"Bagimu Akmal memang hanya teman, tetapi bagi Akmal kau adalah dunianya..." bantah Tamara kemudian mencubit lenganku dengan kuat.

"Auw..." jeritku seraya mengusap lenganku yang sakit akibat cubitan Tamara.

"Ah, sudahlah! Kau tidak akan paham akan artinya sebuah kehadiran seseorang..." Tamara berjalan ke arah sofa yang berada tak jauh dari meja kerjaku. Dia menghempaskan tubuhnya di sana.

"Memangnya sepenting apa kehadiran seseorang itu untukmu?"

Tamara menatapku. Dia sepertinya yakin bahwa sebenarnya aku tahu maksud perkataannya. Namun, terlalu gengsi untuk seorang Naraya mengakui bahwa aku sangat membutuhkan Akmal di sisiku. Akmal adalah orang yang selalu ada di saat apapun itu.

"Hei!" seruku dengan keras saat melihat Tamara terdiam.

"Kehadiran ya? Bagiku... Ya... Kehadiran seseorang itu adalah sebuah kepentingan. Bisa saja orang itu memang sudah diciptakan Tuhan untuk selalu ada di samping kita dalam keadaan apapun. Aku tidak pernah lupa saat aku kehilangan Papa, orang yang pertama sekali datang ke Rumah Sakit untuk melihat keadaanku adalah Akmal dan seterusnya Akmal selalu datang di setiap kesempatannya dan dalam keadaan apapun. Kurasa kau lebih paham dariku, Nay!" tukas Tamara sembari mengedipkan bola matanya sebelah kanan.

Aku menelan ludah. Aku tahu apa yang sedang dikatakan oleh Tamara adalah sebuah kebenaran. Akmal memang selalu ada untuk kami berdua.

Lihat selengkapnya