DIA, AZHARKU

Nina Nola Boang M
Chapter #25

Hari yang Sungguh Menyebalkan

"Kenapa tidak mengangkat teleponku tadi?" tanya Azhar saat kami bertemu di sebuah avenue acara kantor. Wajahnya terlihat kesal.

Aku tersenyum. Aku tahu bahwa ini salahku. Seharusnya aku memberitahunya, kalau aku bersama Tamara siang tadi. Namun, ada rasa yang sedikit menggelitik saat wajah kesal itu memandangku sekarang.

"Jangan tersenyum seperti itu!" seru Azhar. Kekesalannya hampir memuncah.

Senyumku semakin lebar. Aku memandang wajah Azhar yang kesal. Aku ingin tertawa, tetapi ku tahan.

"Aku sudah bilang, jangan tersenyum!" seru Azhar lagi dan semakin kesal melihatku bersikap seperti ini.

Aku mendekatinya. "Lalu, aku harus bagaimana? Cemberut juga? Kesal juga?" tanyaku dengan sedikit centil.

"Cukup jawab pertanyaanku saja!" tukas Azhar dengan suara yang keras.

Aku masih tetap tersenyum.

"Ray, jangan buat aku semakin kesal! Aku hanya ingin tahu kenapa kau tidak mengangkat teleponku? Tolong!" seru Azhar sembari membelalakkan matanya ke arahku.

"Sepenting itu?" tanyaku kembali.

"Of course! Ini sangat penting untuk aku tahu!" serunya dengan nada suara yang tinggi. Untung saja, ruangan ini ramai dengan karyawan lain sehingga tidak ada yang mendengar kegaduhan kami.

"Baiklah, akan ku jawab. Tadi siang aku bersama Tamara di cafe sebelah. Aku tidak mungkin mengangkat teleponmu, Har. Tamara pasti akan curiga." Aku mencoba menenangkan Azhar dengan menepuk pundaknya.

"Aku sudah mengirimimu pesan untuk makan siang bersama, kan?"

"Terlambat. Aku sudah bersama Tamara. Jadi, kupikir tidak mungkin membalas pesanmu lagi..." jawabku dengan cuek.

"Oh, Tuhan! Kau tahu tidak, kalau aku menunggu jawabanmu sampai tidak makan siang?" keluh Azhar sembari menepuk dahinya.

Aku terkejut. "Jadi, kau belum makan siang sampai sekarang?" tanyaku. Aku benar-benar terkejut.

Azhar hanya mengerucutkan bibirnya. Dia membuang wajahnya dariku.

"Maaf..." Aku meraih tangan Azhar untuk meredakan kekesalannya tanpa sadar orang lain akan melihat kami.

"Sudahlah, tidak apa-apa. Asal kau senang, aku juga ikut senang!" ujar Azhar sembari mengalihkan wajahnya ke sekeliling kami.

"Bagaimana kalau aku menemanimu makan malam ini?" tanyaku menawarkan diri untuk menemaninya makan malam. Aku yakin dia pasti senang.

"Kau serius?" tanyanya seakan tak percaya padaku.

Aku mengangguk. "Aku tidak ingin kau jatuh sakit karena kesalahanku.

Azhar tersenyum. "Tidak akan."

Tiba-tiba, Tamara mendekatiku yang saat itu sedang duduk bersama Azhar di satu meja. Dia sempat terkejut melihat kami berdua tampak dekat. "Kau sudah lama di sini, Nay?" tanyanya dengan tatapan penuh curiga.

"Ya..." jawabku dengan cepat.

"Kenapa tidak menungguku?" tanya Tamara lagi.

Lihat selengkapnya