Aku membuka kulkas dan memandangi isinya. Beberapa cemilan dan minuman kaleng sudah habis. Sepertinya hari ini aku harus keluar untuk membeli kebutuhan yang hampir kosong. Setelah mengambil botol air minum dari dalam kulkas, aku berjalan menuju sofa. Ku hempaskan tubuh mungil dan padat ini tanpa aba-aba. Aku merasa ada kekhawatiran yang berlebihan dalam diriku sekarang. Khawatir akan keadaan Azhar, khawatir akan Shuha yang mengetahui hubunganku dan Azhar, khawatir akan Tamara yang mulai mencurigaiku, dan khawatir bagaimana sikap Akmal nanti jika tahu apa yang sedang ku lakukan sekarang?
"Kau sudah bangun?" tanya Tamara yang baru saja keluar dari dalam kamar.
Aku hanya mengangguk.
"Sudah sarapan?" tanya Tamara lagi dengan rambut yang masih berantakan.
Aku menunjukkan botol air minum yang sedang ku pegang.
"Air putih?" tanyanya sambil melotot.
Aku mengangguk lagi.
"Apa kau sedang diet, Nay?" tanyanya yang tampak bingung. Gadis itu mendekatiku dan duduk di sampingku.
Aku menggeleng. "Tidak..."
"Lalu, ini apa?" Tamara memegang botol air minum yang masih berada dalam genggamanku.
Aku tertawa kecil. "Aku juga baru bangun dan haus. Jadi, ku ambil saja air putih dari dalam kulkas."
Tamara membulatkan mulutnya. Dengan rambut yang acak-acakan, dia bangkit dari sofa. "Aku akan membuatkan sarapan untukmu. Aku tahu bahwa kau pasti jarang sekali sarapan pagi. Ya, kan?" serunya dari balik dapur.
"Terserah kau saja! Yang penting harus enak!" balasku diiringi dengan tawaku yang khas.
"Pasti!" balasnya tidak mau kalah.
Tamara memang sangat pandai memasak. Tidak seperti aku. Aku sama sekali tidak ahli dalam hal itu. Ah, aku tidak seperti Shuha. Wanita itu pasti melayani Azhar dengan sangat baik. Aduh, kenapa aku harus memikirkan mereka berdua lagi.
"Oya, Nay... Hari ini kau akan pergi kemana?"
Aku memutar bola mata. "Belum ada rencana... Memangnya kenapa?" tanyaku.
"Aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Bukankah beberapa minggu ini kau sudah sering lembur di kantor? Ya, kan?" tanya Tamara dengan suara yang keras dari dapur.
"Memangnya mau kemana?"
"Kemana ya? Aku juga bingung..."
"Kau ini bagaimana? Ingin mengajakku jalan-jalan, tetapi tidak tahu mau kemana." Aku menggeleng-gelengkan kepala.
"Kau ada ide?"
"Ide?"
"Ya, ide tempat yang harus kita kunjungi hari ini," jawab Tamara.
Aku diam sejenak. Aku sama sekali tidak punya ide apapun untuk hari ini. Rencanaku hanya akan keluar untuk membeli kebutuhan sehari-hari.
"Bagaimana kalau kita pergi ke Ancol?" serunya tiba-tiba.
"Ancol?" Wajahku tampak bingung. Ancol? Apa yang akan ku lakukan di sana?
"Iya... Di sana banyak hiburan yang bisa membuatmu kembali ceria..." ujar Tamara.