Aku memandang pria itu dengan kesal. Mengapa harus bertemu dengan pasangan ini di tempat ini? Aku kesal mengapa Azhar membawa Shuha ke sini? Aku juga sangat kesal karena harus melihat kemesraan Azhar dan Shuha. Bisakah dia pergi dari sini sekarang? Oh, Tuhan!
"Eh, ada Pak Azhar?" Tamara yang tiba-tiba datang dari arah lain membuyarkan kekesalanku.
"Hai..." sapa Azhar pada gadis itu.
"Sangat kebetulan sekali kita bertemu di sini ya, Pak?" ujar Tamara dengan senyum manisnya.
Azhar mengangguk. "Ya. Saya juga tidak tahu, kalau kalian datang ke tempat ini."
Tamara tersenyum. "Sebenarnya kami juga tidak ada rencana untuk keluar hari ini, tetapi saya rasa weekend itu perlu untuk menetralkan pikiran," tukasnya.
Azhar tersenyum lagi. "Kau benar, Ra!" balasnya.
Aku masih diam melihat Tamara dan Azhar saling berinteraksi. Aku lebih fokus memandang Shuha yang sejak tadi memperhatikan Tamara. Apakah Shuha sedang merasa cemburu dengan sikap centil Tamara?
""Oya, ini Shuha, istri saya..." ucap Azhar sembari menunjukkan Shuha pada Tamara.
Aku segera menangkap mata tajam Shuha yang sedang mengarah pada Tamara. Dia juga melirik Azhar yang masih tersenyum menatap Tamara.
"Oh. Saya Tamara, Bu..." balas Tamara sembari mengulurkan tangannya. Wajah Tamara sempat terlihat kecewa. Wajar saja, dia sudah jatuh hati pada Azhar saat pertama kali bertemu.
Shuha menyambut uluran tangan itu dan mengucapkan namanya dengan lembut. "Saya Shuha. Senang berkenalan dengan anda, Mbak..."
Aku hanya bisa diam tak bergeming. Aku sadar bahwa Shuha memanglah istri Azhar, sementara aku? Ah, rasanya tidak mungkin juga Azhar memperkenalkanku pada orang lain sebagai....
"Bagaimana kalau kita makan siang bersama?" Shuha memandangku dan Tamara secara bergantian.
Aku sempat ragu dan menggeleng. "Erm...."
Tamara langsung menyambut ajakan itu tanpa basa-basi. "Dengan senang hati, Bu..." jawabnya.
Bola mataku hampir saja keluar karena terkejut dengan jawaban Tamara. Bagaimana bisa Tamara menjawab ajakan itu tanpa persetujuanku? Memangnya aku suka makan bersama mereka? Maaf, kalau berdua dengan Azhar, aku sangat suka sekali.
"Kau juga mau, kan?" seru Tamara padaku sembari tersenyum lebar. Matanya seperti memberiku kode.
Aku tak bisa lagi mengelak, aku hanya mengangguk tanda menyetujui ajakan itu. Tamara!!! Awas saja kau! geramku dalam hati.
Kami pergi menuju sebuah kafe yang sangat terkenal di daerah itu. Aku memandang punggung Azhar dari belakang. Mengapa harus bertemu Shuha dan Azhar di saat seperti ini? Mengapa weekendku sangat kacau? Mengapa Azhar harus membawa Shuha ke sini? Mengapa dan mengapa? Aku terus saja bergumam di dalam hati. Cemburu ini sedang mengalir dari ujung rambut sampai kakiku. Sama seperti saat pertama bertemu dengan mereka Idulfitri tahun lalu. Ah, rasanya membuatku tidak bisa apa-apa.
"Kau mau pesan apa, Nay?" tanya Tamara sembari menyodorkan buku menu padaku.
Aku tersadar dari lamunan. Aku segera mengambil buku menu itu dan melihat isinya. Beraneka ragam makanan dan minuman di sini, tetapi mengapa aku bingung memilihnya? Ini pasti karena mereka berdua.
"Bagaimana kalau pasta bolognese? Kau mau, Ray?" tanya Azhar dengan suara yang lantang.
Aku terkejut. Aku memandangnya dengan rasa was-was. "Pas... Pasta? Bolognese?" tanyaku terbata-bata.
Azhar mengangguk seraya tersenyum.