Tanpa mengetuk pintu terlebih dulu, Akmal masuk ke dalam ruanganku.
"Hai, Sayang..." sapanya membuatku terkejut.
Aku bangkit dari kursi dan memperhatikan Akmal dari ujung rambut sampai kaki.
"Why? Kenapa kau melihatku seperti itu? Kau tidak bahagia aku kembali, Ray?" tanya Akmal beruntun dengan wajah cemberut.
Aku menggeleng. "Kapan kau sampai? Kenapa tidak memberitahuku?"
"Memangnya kau akan menjemputku di Bandara, jika ku beritahu kepulanganku ini?" tukas Akmal sembari tersenyum simpul.
Aku menggeser kursi itu sedikit dari kakiku. "Setidaknya beritahu aku dulu..." ucapku lagi.
"Kau tidak bahagia aku kembali?" Akmal memandangku dengan tajam.
"Aku hanya terkejut melihatmu di sini," jawabku mencoba tetap tenang. Padahal sebenarnya aku mulai khawatir sekarang.
"Oh begitu ya... Berarti kau tidak bahagia aku kembali?" tanya Akmal sekali lagi.
Aku menatap pria ini. Sepertinya tidak ada yang berubah dari seorang Akmal. Dia tetap menjadi pria yang selalu ada di sisiku.
"Kau suka dengan kejutan ini?"
"Kejutan? Kejutan apa?" tanyaku bingung.
"Kejutan kepulanganku tanpa memberitahu siapapun, termasuk kau!" seru Akmal dengan sangat percaya diri.
Aku tertawa kecil. "Aku terkejut. Bukan karena kepulanganmu, tetapi karena pintu kantorku tiba-tiba saja terbuka di pagi hari seperti ini. Apalagi, aku tidak pernah membenarkan siapapun masuk ke sini tanpa izin..." jelasku dengan panjang lebar.
"Aku mengerti, Bu Manajer. Sekretarismu sudah memberitahuku sebelumnya, tetapi aku nekat saja menerobos masuk ke dalam..." jawab Akmal.
Aku mendekati Akmal. "Mana oleh-oleh buatku?" tanyaku sembari mengulurkan tangan pada Akmal.
"Bukannya menanyakan keadaanku, malah minta oleh-oleh!" seru Akmal dengan nada tinggi.
Aku mendelik. "Kau datang tiba-tiba sambil berlari dan tertawa masuk ke ruangan ini, apakah itu tidak menandakan bahwa kau baik-baik saja? Apa aku harus bertanya lagi? Sudah cukup bukti bahwa kau baik-baik saja..." cerocosku tanpa perduli apa yang Akmal pikirkan.
"Bukan begitu maksudku, Ray!"
"Ah, sudahlah! Kalau memang tidak ada oleh-oleh, bilang saja!" seruku. Ku lirik wajah Akmal yang berubah ketakutan.
"R-raya... Aku hanya bercanda..."
Aku membalikkan tubuh dan mengambil posisi membelakanginya.
"Ray, aku minta maaf. Aku hanya bercanda tadi..." ucap Akmal dengan ragu-ragu.
"Sudahlah, bilang saja kau tidak membawa apapun untukku. Dasar teman pelit!!" seruku sambil mengerucutkan bibir ke arahnya.
"Aku bawa oleh-oleh untukmu kok! Jangan marah dulu dong!" bujuk Akmal sembari memegang kedua tanganku.
"Aku tidak percaya!" bantahku dan menarik tanganku dari genggaman Akmal.
"Aku serius! Nanti aku antar ke apartemenmu!" seru Akmal lagi.
Tiba-tiba, pintu ruanganku terbuka lagi tanpa izin. Aku tahu siapa yang datang sekarang.
"Akmal????" seru Tamara dari pintu. Dia melihat seseorang yang begitu dirindukannya yaitu Akmal.
Segera saja aku membalikkan tubuh ke arah Tamara dan merapikan blazer peachku yang sedikit berantakan karena berdebat dengan Akmal.
"Hai..." sapa Akmal sambil tersenyum.
"Kapan kau pulang? Kenapa aku tidak tahu? Atau kau hanya memberitahu Naraya saja?" berondong Tamara dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuatku melotot padanya.
"B-bukan... Bukan begitu...."
"Aku juga tidak tahu kapan dia kembali. Kau pikir dia memberitahuku? Tidak sama sekali!" sanggahku. Aku tidak ingin membuat Tamara salah paham.