DIA, AZHARKU

Nina Nola Boang M
Chapter #29

Akmal sedang Berulang Tahun

Tamara menyikut lenganku dengan pelan saat kami makan siang bersama di sebuah resto.

"Ada apa?" tanyaku seperti tahu apa maksud dari Tamara.

"Kau tidak ingat hari ini hari apa?" tanya Tamara.

Aku memutar kedua bola mataku. "Hari... Hari Kamis, bukan?" jawabku.

Tamara menghela napas panjang dan menoleh ke arahku lagi.

"Salah? Setahuku ini hari Kamis. Kalau kau tidak yakin, coba lihat di kalender!" seruku. Kemudian aku membuka layar telepon genggam yang ada di atas meja.

"Aku tahu ini hari Kamis. Yang ku tanyakan adalah, apa kau ingat ini hari tentang apa?" tanya Tamara sekali lagi dengan raut wajah kesal.

Aku mengernyitkan dahi. "Apakah ini sangat penting untuk ku ketahui?"

Tamara menepuk dahinya dengan pelan. "Aku rasa kau memang agak aneh akhir-akhir ini. Seperti orang yang kurang konsentrasi."

Aku hanya tersenyum.

"Apa ada sesuatu yang tidak ku ketahui tentangmu? Atau kau memang merahasiakannya dariku?" tanya Tamara dengan penasaran.

"Tidak! Aku tidak merahasiakan apapun. Kau terlalu berlebihan, Ra!" jawabku.

"Aku akan mencari tahunya sendiri..." ujar Tamara sembari mengambil segelas jus melon dingin yang ada di hadapannya.

"Cari tahu? Kau ingin menjadi detektif ya?" tanyaku sambil tertawa.

"Kalau bisa, kenapa tidak? Demi sesuatu yang tidak ku ketahui," jawab Tamara.

Aku menelan ludah. Gadis ini bukanlah gadis yang lemah. Aku sangat menyadari bahwa Tamara bisa melakukan apapun demi sesuatu yang diinginkannya. Apalagi hanya sebuah rahasia besar yang ku miliki sekarang.

"Oya, Akmal berulang tahun hari ini. Benar, kan?" Aku membuka suara tiba-tiba.

"Nah, itu kau ingat!"

"Maksudnya?"

"Ya ini yang ingin ku katakan tadi padamu. Akmal berulang tahun, tetapi kau tidak peka sama sekali. Hah!" tukas Tamara sembari mengunyah makanan yang ada di mulutnya.

"Hehehe... Bukan tidak ingat, hanya bingung..." jawabku.

"Kau sudah punya rencana?"

"Rencana?" Aku mengernyitkan dahiku sekali lagi.

"Belum?"

Aku menggeleng. "Aku belum memikirkan apapun tentang itu."

"Bagaimana kalau kita mengundangnya makan malam? Aku pikir itu akan menjadi hari yang istimewa untuknya." Sambil tersenyum lebar, Tamara mengedipkan matanya.

"Kau yang traktir?"

Tamara mendelik. "Naraya!!! Tolong, jangan buat aku malu! Kau ini seorang Manajer, seharusnya kau yang menanggungnya nanti."

Aku tertawa. "Kau ini bagaimana? Siapa yang punya rencana? Aku? Bukan, kan?"

"Nay... Tolong!!!" bujuk Tamara dengan wajah memelas.

Aku tertawa puas melihatnya merayuku seperti itu.

Jam sudah menunjukkan pukul 17.05 WIB. Aku mengemasi semua perlengkapan kantor dan memasukkan barang-barangku ke dalam tas. Setelah itu, aku memeriksa telepon genggam yang masih berada di atas meja. Ada sebuah pesan dari Azhar.

[azhar - aku menunggumu untuk makan malam bersama. kau mau, kan?]

Lihat selengkapnya