Aku menyeka air mata yang mengalir deras di pipi dengan selembar tisu. Ku ambil telepon genggamku dan mencari nama seseorang.
"Ya, Ray... Ada apa?" jawab Akmal dari seberang.
"Aku ingin bertemu denganmu sekarang." Isak tangisku masih terdengar.
"Kau kenapa, Ray?" tanya Akmal lagi.
"Aku ingin bertemu, Mal. Sekarang juga..." balasku dan semakin meringis.
"Oke. Aku akan datang ke sana. Kau tetap di situ ya!" ucap Akmal sebelum akhirnya telepon terputus.
Ku sandarkan tubuhku ke kursi yang berada di balkon. Air mataku terus mengalir deras. Aku tak tahu apa yang harus ku lakukan sekarang? Rasanya seperti tumpukan berat menghantamku saat ini. Beberapa jam sebelum aku menelepon Akmal, sesuatu terjadi di luar dugaanku selama ini.
"K-kau datang sendiri, Shuha?" tanyaku saat membuka pintu dan terkejut melihat Shuha sedang berdiri di sana.
Shuha mengangguk pelan. "Bolehkah aku masuk?"
"Oh, tentu saja. Silakan masuk!" ucapku dan mempersilakannya masuk ke dalam.
Shuha melangkah menuju ruang tamu. Dia meletakkan selembar kertas di atas meja dan kemudian duduk. Shuha memandangku.
"Kau mau minum apa?" tanyaku dengan senyum yang mengembang.
"Tidak usah! Aku hanya sebentar saja, Naya..." jawabnya.
Wajahnya tampak sembab dan kelopak matanya juga bengkak, selebihnya aku tak tahu karena tertutup dengan cadar berwarna coklat.
"Aku minta maaf karena sudah mengganggumu malam-malam begini, Nay." Matanya menatapku.
Aku menggeleng. "Tidak apa-apa..." jawabku dengan sedikit ragu karena seperti ada sesuatu yang terjadi pada wanita ini.
"Apa kau sudah memiliki kekasih?" tanyanya dengan tiba-tiba.
Aku mendelik. "K-kekasih? T-tidak. Aku tidak memiliki siapapun."
Shuha mengendus. "Apa kau dan Azhar saling mencintai?"
"Hah????" Kali ini jantungku rasanya berhenti berdetak.
"Apa kau mencintai Azhar seperti Azhar mencintaimu?" tanyanya lagi.
"Ah, kau ini kenapa? A-aku... A-azhar... Tidaklah, aku tidak mungkin mencintainya, Shu..." tukasku dengan terbata-bata.