DIA, AZHARKU

Nina Nola Boang M
Chapter #31

Perdebatan Hati (1)

Cahaya mentari masuk melalui jendela kaca yang tidak ku tutup sejak tadi malam. Sinarnya memantul mengenai sebagian wajahku sehingga membuatku terbangun dari tidur. Ku lihat jam weker yang ada di sisi kiri tempat tidur. Sudah jam 7 pagi. Aku terlalu lama menangis dan tak sadar jika hari ini harus berangkat ke kantor lebih cepat dari biasanya.

"Oh, Tuhan! Aku sudah terlambat!" seruku sembari bangkit dari tempat tidur dan berlari menuju kamar mandi. Namun, aku tertegun saat melihat ruang tamu yang berantakan dan ada seseorang yang sedang terlelap di atas sofa.

Aku bergerak perlahan dan mendekatinya. "Azhar???" seruku sembari memegang wajahnya.

Azhar menggerakkan kepalanya dan melihat ke arahku. "Raya..." ucapnya setengah berbisik. Azhar juga tampak masih mengantuk.

"Kau tidak pulang semalam?" tanyaku heran. Seingatku kami mulai berdebat dan aku lupa. Ya, aku lupa apalagi yang terjadi selanjutnya.

"Tidak." Azhar menggeleng masih dengan mata yang memgantuk.

"Bagaimana dengan Shuha? Dia pasti akan mencarimu!" jawabku.

"Shuha? Kau lupa ya? Kami sudah bercerai dan aku tidak mungkin tinggal bersamanya lagi..." jawabnya dan kemudian bangkit. Dia duduk di sofa dan memandangku.

"Tetapi...."

"Tidak ada kata tetapi. Kau tidak perlu mengkhawatirkannya lagi," ujar Azhar sambil tersenyum.

"Kalian bisa bicara lagi dengan baik-baik. Setidaknya hubunganmu dan Shuha tidak seperti ini." Aku mencoba menyadarkan Azhar bahwa apa yang mereka lakukan ini adalah kesalahan yang fatal.

"Tidak mungkin lagi, Sayang."

"Tetapi, Har... K-kau...."

"Sudahlah, tidak usah dibahas lagi. Sudah jam berapa sekarang?" tanyanya sembari melihat ke arah jam dinding yang terletak tepat di atas televisi.

Aku menghela napas. "Jam 7. Aku pikir kita akan terlambat datang ke kantor."

"Benarkah?" Azhar terkejut.

Aku mengangguk.

Dengan cepat, Azhar meraih kemeja dan sepatunya. Dia berkemas untuk pulang ke rumah terlebih dulu.

Sepanjang perjalanan menuju kantor, otakku terus berpikir. Apakah ini berarti Azhar akan terus bersamaku? Apakah dengan perceraiannya, aku merasa bahagia? Ah, aku benar-benar bingung. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Mengapa Azhar begitu mudah membiarkan Shuha menggugatnya? Apakah mereka tidak berpikir dengan matang bagaimana kehidupan mereka ke depan nanti? Lalu, aku? Apakah ini semua Azhar lakukan demi diriku? Ah, jangan terlalu percaya diri dulu Naraya!

"Ray!!" teriak Akmal dari belakang saat aku akan masuk ke dalam ruanganku.

"Ya..." jawabku dan membalikkan tubuhku untuk melihatnya.

"Kau kemana semalam? Aku sudah datang ke apartemen, tetapi kau tidak ada." Akmal mengernyitkan dahinya.

"A-aku... Aku tidak kemana-mana. Aku menunggumu," jawabku.

"Benarkah? Jadi, mengapa kau tidak membuka pintu saat aku datang?" tanya Akmal.

"Kau benar-benar datang?" tanyaku sambil memandang wajahnya dengan serius.

"Of course. Kau menelepon dan memintaku untuk bertemu, tetapi kau pergi entah kemana." Wajah Akmal sudah tampak kesal.

"Aku tidak pergi kemanapun. Mungkin saja saat kau datang, a-aku... Aku sudah tidur." Ku harap jawaban ini adalah jawaban yang tepat dan semoga Akmal menerima jawabanku ini.

Lihat selengkapnya