Akmal mengusap punggungku dengan lembut. Segelas air putih sudah ada di atas meja. Berkali-kali pula aku menyeka air mataku. Kesedihan ini benar-benar terasa menusuk relung hati. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Aku hampir saja membuat dua orang pria berkelahi karena diriku.
"Kau sudah tenang?" tanya Akmal sembari terus mengusap punggungku.
Aku masih menangis. Terlalu sedih kurasa.
"Kalau memang sulit untuk mengatakannya, lebih baik kau lupakan saja semua. Mungkin dengan begitu hatimu akan jauh lebih tenang," hibur Akmal dengan tawa kecilnya.
Ku angkat wajahku dan memandangnya dengan sangat lama. Aku ingin mengatakan semuanya pada Akmal, tetapi tak ada keberanian sedikitpun. Yang ada hanya ketakutan.
"Bagaimana kalau kau minta cuti saja dulu, Ray? Kurasa kau memang perlu beristirahat." Akmal membelai rambutku dengan lembut.
Aku menggeleng. "Tidak. Aku baik-baik saja, Mal..."
"Jangan paksa keadaanmu, Ray!" serunya lagi dengan suara yang lebih lembut.
"Aku baik-baik saja, Mal..." ulangku sekali lagi memastikan padanya bahwa aku baik-baik saja.
"Baiklah. Aku percaya kau baik-baik saja..." ujar Akmal.
Aku mengangguk pelan. Ku raih gelas di atas meja dan meneguk airnya sedikit demi sedikit. Tenggorokanku terasa basah dan membuat pernapasanku juga lega. Namun, tidak dengan perasaanku.
"Bagaimana kalau kita makan sushi siang ini? Kau mau?" tanya Akmal padaku.
Sushi? Ya, itu memang makanan kesukaanku dan Akmal adalah orang yang paling tahu akan hal itu.
"Kau pasti mau! Ayo!" serunya dan menarik tanganku keluar dari dalam ruangan.
Kami berdua masuk ke dalam lift. Aku masih menutup wajahku dengan tangan karena khawatir karyawan lain akan melihat mataku yang bengkak. Apalagi ini sudah masuk jam makan siang. Mereka pasti sedang menuju resto atau cafe.
"Tamara tidak ikut?" tanyaku setelah menyadari bahwa si gadis centil itu tak bersama kami.
"Oh, Tuhan! Aku lupa memberitahunya. Sebentar ya, akan ku hubungi dia..." jawab Akmal dan mengambil telepon genggamnya dari dalam saku celana.
Aku mengangguk. Kebersamaan kami bertiga memang tak bisa dipisahkan. Aku seorang perantau dan mereka yang memang anak ibukota membuat hari-hariku di sini menjadi ramai. Apalagi mereka berdua termasuk orang yang selalu mendukungku dalam hal apapun itu, baik pekerjaan maupun kehidupan pribadi. Aku tidak akan mungkin bisa jauh dari mereka berdua.
Aku dan Akmal masuk ke dalam sebuah restoran Jepang. Ini adalah tempat favorit kami untuk menghabiskan waktu yang penuh dengan tantangan dan kelelahan, lagipula Akmal dan aku memang pecinta makanan Jepang.
"Aku sudah memberitahu Tamara dan dia akan ke sini sebentar lagi..." ujar Akmal sambil memasukkan telepon genggamnya ke dalam saku.
"Dia masih di kantor?" tanyaku lagi karena menurutku Tamara bukan seorang yang pekerja keras.
"Tidak. Dia ada tugas ke luar daritadi pagi..." jawab Akmal sembari meletakkan sumpit di samping piringnya.
"Oh..." balasku.