Ku lipat beberapa kaos lengan pendek, tanktop, celana jeans panjang, dan sweater. Lalu, ku masukkan semuanya ke dalam koper. Tak lupa juga, aku memasukkan printilan-printilan lainnya agar tak ada yang tertinggal. Yang ku tahu, Bandung adalah kota yang dingin. Maka dari itu, aku tidak ingin barang-barang yang akan ku gunakan di sana tertinggal begitu saja. Aku mendapat cuti selama 5 hari karena terlalu lelah dalam pekerjaan. Mungkin ini sangat tidak masuk akal karena Pak Atma dengan mudahnya menyuruhku liburan sebelum badanku benar-benar fit untuk bekerja kembali. Apalagi semuanya sudah diatur oleh Akmal. Pria itu memang tak pernah mau melihatku menderita sedikitpun. Dia yang bersusah payah meminta izin dari Pak Atma. Aku tak bisa membalas kebaikannya itu. Packing hari ini sudah selesai. Tinggal persiapan untuk berangkat besok pagi.
Malam ini amat syahdu. Bunyi klakson yang terdengar dari jalan raya ibarat lantunan musik yang sedang mengiringi kegusaranku. Udara malam membelai wajahku, sehingga tubuh pun ikut merasakannya. Ku pejamkan mata sejenak, lalu menarik napas agak panjang. Ada sesuatu yang terasa melegakan. Mungkin beban itu terlalu berat atau masalah ini tak juga mendapat jalan keluarnya. Tiba-tiba saja, aku teringat pada Shuha. Apa kabar dengannya? Seminggu setelah dia datang ke sini, aku tak lagi mendengar kabar wanita itu. Apakah dia sudah kembali ke London? Ataukah.... Ah, entahlah. Tak seharusnya aku memikirkan Shuha. Untuk apalagi? Mereka sudah bercerai. Azharpun tak tahu dimana wanita itu berada sekarang.
Telepon genggamku berbunyi. Nama Azhar terpampang di layar. Dengan berat hati, aku terpaksa mengangkat telepon itu. Ya, dengan berat hati.
"Ya..." sapaku dengan lembut. Aku memang selalu begini setiap berhadapan dengan pria yang sudah mendarah daging di jiwaku sejak 13 tahun yang lalu. Oh, Tuhan... Lagi-lagi aku harus mengingat hal itu.
"Belum tidur?" tanyanya dari seberang.
"Belum. Kau?"
"Aku masih di luar."
"Oya? Dimana? Sedang apa? Sendiri saja?" berondongku dengan banyak pertanyaan.
"Hahaha... Kau khawatir padaku, Ray?" tanyanya sambil tertawa.
Aku terdiam. Sepertinya aku sudah melakukan sesuatu yang berlebihan. Pantas saja tawanya lebar seperti itu.
"Aku bersama Mama. Kami sedang makan malam di Hotel." Azhar menjelaskan keberadaannya padaku.
"Tante Sundari datang?"
"Ya. Setelah mendengar kabar perceraianku dengan Shuha, Mama langsung terbang ke sini. Kau ingin bertemu dengannya?" tanyanya sembari tertawa kecil.
"Erm... Memangnya... Erm... Tidak apa-apa?" tanyaku terbata-bata. Aku takut Tante Sundari marah dan kecewa padaku karena pernikahan Azhar dan Shuha harus berakhir seperti ini.
"Kenapa memangnya? Aku sudah menjelaskan semuanya pada Mama..." jawabnya.
Walaupun begitu, hatiku tak serta merta lega dan puas. Aku masih tak bisa memaafkan diriku sendiri. Aku benar-benar telah melakukan kesalahan yang fatal.
"Naraya..." panggil Azhar lagi.
"Ya, baiklah..." jawabku.
Telepon berakhir dengan persetujuanku untuk bertemu dengan Tante Sundari. Apapun yang terjadi nanti, itu adalah hukuman untukku. Aku hanya ingin meminta maaf pada Tante Sundari.
Ku masukkan sling bagku ke dalam mobil kemudian melaju dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan aku berpikir lagi. Apakah ini benar? Jika aku bertemu dengan Tante Sundari, itu berarti aku bahagia dengan perceraian mereka. Apalagi Tante Sundari sempat bercerita padaku bahwa dia kurang menyukai Shuha. Dengan berkumpulnya aku bersama beliau, itu akan menunjukkan bahwa kami senang melihat Azhar dan Shuha berpisah. Ah, tidak. Aku masih memiliki hati nurani. Oh, benarkah? Apakah dengan mendekati suami orang itu masih bisa dibilang memiliki hati nurani? Ah, sudahlah. Aku memang bersalah. Sangat bersalah. Setelah kupikirkan lagi sepertinya tidak usah saja. Ku putar kemudiku ke arah kanan, arah yang berlawanan dengan lokasi Azhar dan Tante Sundari berada. Ku ambil telepon genggam dari dashboard mobil, lalu mencari nama Shuha.
"Assalammualaikum." Aku mengetuk pintu rumah itu dengan perlahan-lahan.