Aku sampai di apartemen pukul 23.45 WIB. Bertemu dengan Shuha membuatku sedikit tenang, walaupun sebenarnya ini masih terasa berat bagiku. Ku panjangkan kaki ke atas meja sambil bersandar di sofa. Ku pandangi langit kota Jakarta melalui jendela kaca yang berada di hadapanku. Masih tampak baik-baik saja. Seandainya hatiku juga sebaik malam ini. Shuha benar-benar wanita yang hebat. Dia mampu melakukan hal yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya. Mengalah bukan berarti kalah. Itulah yang sedang terjadi pada Shuha. Aku merasa malu. Mengapa aku tidak bisa melakukan apa yang bisa dilakukannya? Mengapa aku tak mengalah saja dengan pernikahan Azhar. Akmal benar, masih ada pria lain yang menungguku di luar sana. Mengapa aku harus menanti Azhar?
Baru saja aku beranjak dari sofa untuk tidur, teleponku berdering. Ku ambil telepon itu dari dalam sling bagku.
Akmal memanggil...
"Ya, ada apa?" tanyaku langsung tanpa basa-basi.
"Kau sudah tidur?" tanyanya dari seberang.
"Belum. Aku baru sampai di apartemen."
"Oya? Darimana? Mengapa malam-malam begini masih keluar?" Sepertinya Akmal mulai resah dengan pengakuanku.
"H-hanya... Aku hanya mencari angin. Terlalu bosan berlama-lama di sini," jawabku. Dia tidak akan pernah tahu tentang Shuha dan tentang masalah yang sedang ku hadapi.
"Hahaha... Besok pagi kau akan pergi ke Bandung. Nikmati hari liburmu dengan penuh semangat dan makna ya, Sayang..." ujar Akmal dengan suara lembut.
"Ya. Aku tahu..."
"Aku akan menyusul nanti... Jadi, kau tidak akan sendirian di sana!" ucapnya.
"Tidak usah repot-repot, Mal!"
"Kenapa harus repot? Aku sudah bilang bahwa aku akan selalu ada di sampingmu. Ya, kan?" tanyanya.
"Terserah kau saja!" cetusku.
"Baiklah, sekarang kau tidur karena besok pagi aku akan menjemputmu dari apartemen..."
"Thank you, Mal..." sahutku.
"You're welcome, Dear..." balasnya dari seberang.
Aku meletakkan telepon genggamku di atas meja. Segera aku bangkit dari sofa dan menuju kamar mandi untuk bersiap-siap tidur. Semoga malam ini tidurku lebih berkualitas dari malam-malam sebelumnya.
Ting tong ting tong...
Aku membuka mata pelan-pelan. Ku lihat cahaya mentari menembus tirai jendela. Sudah pagi? Kenapa aku tak menyadarinya? Apakah tidurku terlalu nyenyak sampai aku tak sadar lagi?
Ting tong ting tong...
Suara itu. Suara bel, bukan? Atau aku salah dengar? Ku hempaskan selimut tebal yang menyelimuti tubuhku. Dimana telepon genggamku? Aku mencarinya kemana-mana. Ah, aku baru ingat. Tadi malam aku meletakkannya di meja depan. Aku bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju ruang tamu.