Kereta mulai bergerak. Lambaian tangan Akmal masih bisa terlihat, walaupun aku tak sempat membalasnya. Masih ku intip dia dari jendela ini. Betapa baiknya Akmal padaku. Tak ada kata sebentar, dia selalu menjadi yang pertama setiap aku membutuhkan bantuan. Namun, mengapa sedikitpun tak ada perasaan yang timbul di hatiku untuk Akmal? Mengapa setiap sikap manisnya terlihat biasa saja di hadapanku? Sampai kapan aku harus menggantung perasaan Akmal? Sampai kapan pula dia akan menjadi penolongku?
Setengah jam berlalu, setelah kereta berangkat dari stasiun. Pemandangan di luar jendela membuat pikiranku melayang-layang. Bagaimana dengan Azhar hari ini? Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia tidak mencariku? Atau dia sedang bingung mencariku sekarang? Ingin rasanya aku menghubungi Azhar, tetapi aku sudah berjanji pada Akmal untuk tidak memberitahu siapapun. Ah, sudahlah. Ku coba saja untuk menjauhinya mulai sekarang. Mungkin saja, ini hanya ujian untuk kami.
Azhar sampai di depan ruanganku. Seperti biasa, sebelum masuk, dia akan mengetuk pintunya terlebih dulu. Sangat berbeda dari Akmal dan Tamara.
"Pak Azhar mencari Bu Naraya?" tanya Siska, sekretarisku.
"Oh, iya... Beliau sudah datang, kan?" tanya Azhar.
Siska tersenyum. "Bu Naraya tidak datang hari ini, Pak..." jawabnya.
"Tidak datang? Kenapa? Sakit?" Azhar mulai khawatir dengan jawaban Siska.
Siska kembali tersenyum. "Sepertinya begitu. Saya hanya menerima pesan dari Pak Akmal."
"Akmal?"
"Iya, Pak..." jawab Siska.
"Terima kasih ya untuk informasinya..." Azhar tersenyum dan meninggalkan ruanganku. Ada raut kecewa di wajahnya. Mungkin karena aku tidak mengatakan apapun padanya tentang ini semua. Mungkin karena Akmal lebih tahu tentangku daripada dirinya.
Aku membuka aplikasi ojek online untuk memesan taksi setelah sampai di Bandung. Aku juga tak pusing lagi untuk mencari Hotel atau penginapan di sini karena Akmal sudah mengurus semuanya untukku. Kurang apalagi dia, Naraya? Entahlah. Akupun tak tahu. Mungkin Akmal memang tidak kurang apapun, aku yang belum menemukan kelebihannya.
"Ibu Naraya, kan?" tanya si pengemudi padaku.
"Ya."
"Ibu akan pergi ke Sheraton Hotel?" tanya beliau lagi.
"Ya, Pak..." jawabku.
Pengemudi taksi menghidupkan mobilnya dan mulai melaju dengan kecepatan sedang.
Selama perjalanan aku mencoba untuk menikmati pemandangan kota Bandung yang asri dan mencoba melupakan Jakarta beserta isinya, termasuk Azhar. Ya, Azhar. Aku harus bisa menahan rindu ini sampai aku berhasil hidup tanpa bayang-bayang Azhar lagi. Namun, apakah bisa? Setelah apa yang dikorbankannya untukku, apakah aku juga harus meninggalkannya?
Tamara mendekati Akmal yang masih sibuk di meja kerjanya. Gadis centil itu membawa segelas mochalatte di tangannya.
"Apa aku mengganggumu?" tanya Tamara sembari menarik sebuah kursi kosong ke sisi kanan Akmal.
"Tidak. Ada apa, Ra?"
"Aku membawakanmu segelas mochalatte. Kau mau, kan?" tanya Tamara lagi.
"Oya? Tumben. Ada apa denganmu hari ini?" Akmal melirik Tamara yang mulai tersipu malu.
"Kau lupa ya? Setiap hari aku seperti ini, Akmal..." jawab Tamara.