"Hum..." Aku menggerakkan kepala sambil menarik napas dan mengeluarkannya dengan perlahan. Udaranya begitu segar, pemandangan dari jendela kamarku tampak indah, dan embun pagipun menempel di kacanya. Aku masih berada di atas tempat tidur saat mentari mulai naik. Ku pandangi pepohonan dan bunga-bunga yang mekar bersemi seiring waktunya di luar sana. Sedikit tenang dan sedikit lega. Setelah meninggalkan pekerjaanku sehari saja, sudah membuat kenyamanan dan ketenangan dalam jiwaku. Mungkinkah aku berhenti saja dari perusahaan dan mencari pekerjaan lain? Bisakah?
Aku bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi. Waktunya membersihkan diri untuk memulai petualanganku di kota ini. Semoga menyenangkan! Liburanku telah tiba.
Siska berdiri menyambut Azhar yang ingin masuk ke dalam ruanganku. Dia menyapa Azhar dengan senyuman di pagi ini.
"Naraya sudah datang?" tanya Azhar pada Siska.
Siska menggeleng. "Ibu masih belum datang, Pak."
"Belum datang juga?" tanya Azhar berulang.
"Belum, Pak..."
"Dia tidak meninggalkan pesan apapun?" tanya Azhar heran.
"Tidak, Pak. Sehari sebelum beliau tidak masuk, saya hanya diberi tugas untuk mencancel temu janji beberapa hari ke depan. Itu saja, Pak..." jawab Siska dengan sopan.
"Beberapa hari ke depan? Berarti dia juga tidak akan masuk hari ini dan besok?" Azhar memandang Siska dengan rasa penasaran.
"Saya kurang tahu, Pak..." jawab Siska.
"Apa Akmal memberitahumu sesuatu?"
Siska menggeleng lagi. "Pak Akmal tidak memberitahu apapun. Beliau hanya datang semalam untuk memberitahu bahwa Bu Naraya tidak datang ke kantor."
Azhar menghela napas. "Baiklah, terima kasih," ucapnya dan kemudian pergi meninggalkan Siska.
Berendam air panas di dalam bath up sembari berselancar di dunia maya, membuat waktu santaiku begitu berarti. Jarang sekali aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam di dalam kamar mandi seperti ini karena seluruh waktuku hanya untuk pekerjaan yang semakin berat. "Sepertinya aku harus memberi kabar pada Akmal. Dia harus tahu, kalau aku sangat nyaman berada di sini," gumamku dalam hati.
Sesaat sebelum aku memanggil sahabatku itu, teleponku berdering.
"Azhar????"
Aku terkejut ketika nama itu terpampang di layar. Bagaimana ini? Dia pasti sangat khawatir. Apalagi semalam aku mematikan telepon genggamku seharian. Dia pasti sedang mencariku dimana-dimana. Telepon itu terus berdering. Satu kali, dua kali, sampai kelima kalinya... Aku takut untuk mengangkatnya, tetapi tidak tega juga membiarkannya begitu saja. Setelah menunggu panggilan ke 50 kalinya berhenti, aku bisa bernapas lega. Semoga saja Azhar tidak semakin khawatir dengan tindakanku ini. Aku keluar dari bath up dan mengambil shower untuk membersihkan badan.
"Bagaimana di sana? Kau bahagia, kan?" tanya Akmal di telepon.
"Nyaman dan tenang. Aku benar-benar tenang merasa santai karena tidak ada pekerjaan yang menumpuk di kepalaku," jawabku dengan suara yang lembut.
"Syukurlah... Oya, aku dan Tamara akan datang menyusulmu besok. Kau tidak akan sendirian lagi..." ujar Akmal.