Akmal menjemput Tamara di rumahnya. Setelah menunggu beberapa menit di luar, Tamara keluar dengan koper mini berwarna silver. Senyumnya mengembang menyambut Akmal, pria yang juga menjadi idamannya setahun terakhir ini. Walaupun dia tahu bahwa tak akan mudah mendapatkan cinta Akmal karena pria itu sudah menambatkan hatinya pada Naraya. Namun, cukup perhatian lebih yang diberikan Akmal padanya, itu sudah menenangkan.
"Sudah lama menungguku, Mal?" tanya Tamara sembari berjalan mendekati Akmal.
"Hum, 5 menit tidak terlalu lama." Akmal bangkit dari kursi taman yang berada di halaman depan rumah Tamara.
"Ya... Ya... Ya... Kurasa pun seperti itu," jawab Tamara dengan tawanya yang khas.
"Tante sudah tahu kita akan pergi ke Bandung, kan?" tanya Akmal sembari melongo ke dalam rumah Tamara.
"Sudah. Kalau tidak, Mama juga tidak akan mengizinkanku pergi..." jawab Tamara dan melempar sling bagnya ke dalam mobil.
"Oke... Ayo, kita berangkat!" seru Akmal serta merta masuk ke dalam mobil bersama Tamara.
Udara pagi kota Jakarta masih menyelipkan dingin yang menembus kulit. Pukul 05.30 WIB, Akmal sudah datang menjemputnya. Pagi hari di akhir pekan seperti ini adalah waktu yang tepat untuk berangkat ke Bandung, mengingat ramainya jalan raya dan jalan tol oleh para pecinta weekend.
Akmal memutar lagu kesukaan Naraya di dalam mobilnya. Senyum ceria terpancar dari wajah pria itu.
"Lagu kesukaan si keras kepala!" seru Tamara sambil menoleh ke luar jendela kemudian tertawa kecil.
"Hahaha... Kau berani mengatakannya jika Naraya ada di sini bersama kita?" celetuk Akmal.
"Kenapa tidak? Wanita itu memang sangat keras kepala. Ah, entahlah. Berulang kali aku mengatakan padanya untuk melepaskan Azhar, tetapi dia tetap bersikukuh. Bahkan, berharap akan bertemu dengan pria pujaan hatinya itu suatu saat nanti..." cerita Tamara mengingat bagaimana kerasnya seorang Naraya terhadap sesuatu yang diinginkannya.
"Ternyata benar, kan? Dia sudah bertemu dengan Azhar..." jawab Akmal sambil tertawa.
"Bukan berarti dia harus mengacaukan kehidupan Azhar dan Shuha juga, kan? Memangnya dia tidak kasihan melihat Shuha? Padahal, wanita itu sangat baik dan juga shalihah..." ungkap Tamara memuji Shuha di hadapan Akmal.
"Kau sudah bertemu dengannya?"
"Aku sudah bilang padamu bahwa kami bertemu di Ancol kemarin," tukas Tamara.
"Oh, aku lupa..." Akmal tetap berkonsentrasi dengan jalanan yang mulai padat di depannya.
"Dimana hati nurani Naraya? Mengapa dia sanggup memisahkan Azhar dan Shuha? Heran aku!" seru Tamara lagi.
"Kau kesal pada Naraya?"
"Sangat. Hari ini sudah ku tunggu untuk memberinya pencerahan tentang suatu hubungan. Dia boleh saja mencintai Azhar, tetapi dia harus memgerti posisi Azhar sekarang itu bagaimana..." Tamara menggigit bibirnya dengan wajah sinis.
"Jangan terlalu berlebihan, Ra! Kita tidak bisa menyalahkan Naraya secara sepihak saja. Kau lihat Azhar kemarin, kan? Dia juga sepertinya tidak ingin melepaskan Naraya..." sanggah Akmal.
"Pria memang seperti itu. Tidak pernah puas dengan apa yang sudah dimilikinya dan ingin memiliki lagi. Azhar melakukan itu karena dia tahu bahwa Naraya sangat mencintainya. Tidak menutup kemungkinan dia datang kepada Naraya dan Naraya pasti menerimanya..." ungkap Tamara dengan sangat emosi. Terlihat dari wajahnya yang mulai tak beraturan.
"Aku tidak ingin kau membenci Naraya karena Azhar. Kita belum tahu apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka. Kupikir Naraya juga pasti punya alasan sendiri dan kau harus mendengarkan penjelasannya nanti..." ucap Akmal berusaha meredam emosi Tamara yang mungkin sudah sampai ke ubun-ubun.
Tamara mengalihkan wajahnya ke luar jendela mobil. Lagi dan lagi Akmal akan selalu berada di sisi Naraya dalam keadaan apapun. Itu yang tak pernah bisa dia ubah. Mungkin ini juga yang dirasakan oleh Naraya, selalu menganggap benar apa yang dilakukan Azhar. Mentari mulai naik dan panaspun mulai menyengat. Semoga saja mereka sampai dengan cepat di Bandung sehingga Tamara tidak merasa kepanasan lagi.
Aku mengambil beberapa helai bunga mawar dan membawanya sampai ke kafe. Setelah berkomunikasi dengan Akmal dan Tamara, kami memutuskan untuk bertemu di Braga Cafe, tidak jauh dari Hotel tempat aku menginap. Rasanya sudah tidak sabar bertemu dengan mereka. Kesendirianku melewati masa cuti yang singkat ini benar-benar membuatku buntu ingin bertualang kemana. Apalagi ini adalah kali ketiga aku datang ke kota yang dingin ini. Ku periksa telepon genggamku, belum ada kabar apapun dari Akmal dan Tamara. Mungkin mereka masih di jalan.