Ku lirik jam tanganku, sudah menunjukkan pukul 13.00 WIB. Halaman depan kafe sudah ramai, beberapa orang berpakaian rapi masuk ke dalam. Ada yang datang bersama keluarga, berdua dengan pasangan, beramai-ramai bersama sahabatnya, dan ada pula yang sendiri, seperti aku sekarang. Namun, tak juga ku temukan wajah Tamara dan Akmal. Kemana mereka? Mengapa lama sekali? Seharusnya mereka sudah sampai, kalau memang berangkat pagi dari Jakarta. Aku sedikit kesal karena sudah terlalu lama menunggu. Selain itu, hatiku juga sedang was-was sekarang. Aku tak tahu apakah Azhar juga akan datang. Aku terpaksa menerima tawarannya untuk menemaniku di sini karena memang aku tak bisa menolaknya. Apa yang akan terjadi nanti jika Akmal dan Tamara mengetahuinya, aku pun tak bisa berbuat apa-apa.
"Bagaimana, Mal?" tanya Tamara setelah melihat Akmal tak juga selesai memperbaiki mobilnya.
Akmal mengangkat kepalanya dan berdiri tegak. "Sepertinya mobil ini harus dibawa ke bengkel..." ujar Akmal dengan wajah memelas.
"Bengkel? Bagaimana caranya? Kita juga masih di dalam area jalan tol. Mana ada bengkel di sini." Tamara celingak-celinguk memandang sekelilingnya.
"Aku akan meminta bantuan..." Akmal mengeluarkan telepon genggamnya dan menelepon seseorang. Setelah beberapa menit berbicara di telepon, Akmal kembali mendekati Tamara.
"Bagaimana? Bisa?" tanya Tamara dengan gelisah.
Akmal mengangguk sembari tersenyum. "Bisa..."
"Syukurlah..."
"Tetapi kita harus menunggu sekitar sejam di sini, Ra... Tidak apa-apa, kan?" tanyanya.
Tamara menghela napas. "Mau bagaimana lagi? Memangnya aku bisa keluar dari sini?" jawabnya.
"Aku juga bingung mengapa bisa begini..." sambung Akmal lagi.
Tamara melirik ke arahnya. "Makanya, sebelum berangkat kau pastikan lagi mobilnya dalam keadaan baik-baik saja. Kalau sudah begini, jadi repot, kan?" cerocosnya.
Akmal tertawa kecil. "Kau marah? Kau kesal?"
Tamara melirik pria itu. "Marah? Kesal? Kenapa?"
"Ya, karena kita harus terlantar seperti ini..." jawab Akmal.
Tamara menoleh ke arah Akmal. Sepertinya apa yang dikatakan Akmal benar-benar keluar dari hatinya. Padahal, dia sama sekali tidak bermaksud seperti itu. Dia hanya merasa bahwa menunggu itu sangat membosankan. Apalagi harus menunggu dalam keadaan seperti ini rasanya. Namun, apa yang bisa dilakukannya selain tetap menunggu.
"Aku juga tidak tahu kenapa mobil ini bisa mogok. Padahal, sudah ku periksa sebelum kita berangkat. Semalam juga aku sempat membawanya ke bengkel untuk ganti oli dan memperbaiki yang rusak. Aargghh..." ujar Akmal sembari menendang bumper bagian depan mobilnya.
Tamara terkejut. "Eh, tidak... Tidak apa-apa kok, Mal. Aku tidak merasa kita terlantar. Hanya saja... A-aku... Tidak terlalu suka menunggu. Itu saja, kok..." sahutnya setelah melihat kekesalan Akmal.
"Maafkan aku ya, Ra..." ucap Akmal dengan lembut.
Tamara mengangguk.
"Oya, kau sudah memberitahu Naraya? Aku takut dia menunggu kita terlalu lama..." ujar Akmal tiba-tiba.
"Oh, Tuhan... Aku lupa. Sebentar akan ku telepon dia..." jawab Tamara kemudian mengeluarkan telepon genggamnya dari dalam sling bag. Tamara memanggil Naraya.
Telepon genggamku berbunyi. Panggilan dari Tamara. Hum, sedikit lega. Mungkin mereka sudah berada di dekat sini. Segera ku angkat panggilannya.
"Kalian sudah dimana, Ra?" tanyaku tanpa basa-basi lagi.
"Erm... Nay... Aku minta maaf..."
"Minta maaf? Kenapa?"