DIA, AZHARKU

Nina Nola Boang M
Chapter #39

Hadirmu Di Sini Membuatku Bahagia

Azhar memesan Nasi Goreng dan Lemon Tea Hangat setelah beberapa menit bercengkrama denganku. Dia memutar kepalanya untuk memanggil pelayan kafe. Setelah memberikan daftar pesanan pada pelayan itu, Azhar kembali memandangku. Matanya tampak indah karena memang dia adalah seorang blasteran.

"Apa pekerjaanmu sangat berat, Ray?" tanyanya tiba-tiba.

"Begitulah..." jawabku dengan singkat.

"Kalau kau tidak sanggup menanggung pekerjaan yang menumpuk, lebih baik berhenti saja menjadi Manajer..." ujar Azhar sembari menatapku dengan serius.

"Mundur maksudmu?" Aku benar-benar terkejut dengan pernyataannya barusan.

Azhar mengangguk.

"Oh, tidak mungkin. Aku sudah berusaha untuk mendapatkan jabatan yang paling diidam-idamkan di perusahaan dan kau menyuruhku untuk mundur? Yang benar saja, Har!" bantahku dengan nada tinggi. Ku letakkan sendokki di piring. Ku pandangi pria pujaanku dengan tajam.

"Ini demi kesehatanmu. Lagipula, menjadi karyawan biasa pun kau tetap dipandang sebagai yang terbaik." Azhar mencoba memujiku.

Aku memutar kedua bola mataku. "Walaupun menjadi yang terbaik, karyawan tetaplah karyawan. No price, no value." Aku mulai sedikit sewot pada Azhar. Darimana dia bisa memikirkan hal itu? Menyuruhku mundur dari jabatan Manajer yang sudah lama ku impikan. Yang benar saja dia!

"Ray, menjadi seorang karyawan biasa juga tidak ada salahnya. Asal kesehatanmu stabil dan baik-baik saja. Daripada kau harus seperti ini. Berkali-kali sakit dan harus cuti. Bagaimana dengan pekerjaan dan temu janji dengan klien yang sudah menunggumu? Seharusnya kau memikirkan itu semua..." ucap Azhar dengan sangat detail.

"Sebisa mungkin akan ku selesaikan setelah cutiku habis!" seruku . Wajahku berubah menjadi cemberut seketika. Ku lirik Azhar dengan sinis.

Azhar tersenyum. "Baiklah, kalau itu sudah menjadi prinsipmu. Hidup memang harus punya prinsip, tetapi jika prinsip itu membuat kita menderita, lebih baik tidak usah dilaksanakan. Ya, kan?" Azhar mengedipkan mata kirinya padaku.

Aku tak mengubrisnya. Ku alihkan pandanganku keluar kafe. Bunga-bunga yang sedang bermekaran di halaman membuat kekesalanku sedikit terobati.

"Hei, sudahlah! Jangan cemberut lagi! Senyum dong!" seru Azhar dengan memasang senyum manis. Dia berusaha membujukku setelah membuatku berdebat dengannya.

"Aku tidak tahu mengapa kau mengatakan hal itu. Mengapa tiba-tiba kau menyuruhku berhenti bekerja?" Aku menatapnya lagi.

"Masih mau diteruskan?" goda Azhar.

"Iya. Aku tidak terima dengan ucapanmu tadi..." ucapku dengan ketus.

Azhar tersenyum lagi dan kemudian menggeser kursinya semakin dekat denganku. "Naraya sayang... Aku hanya menginginkan yang terbaik untuk orang yang ku cintai. Aku tidak ingin kau sakit dan kelelahan selama bekerja... Itu saja! Bukan ada niat yang lain, Ray..." jelasnya padaku.

Aku menelan ludah. "Ya... A-aku tahu... Tetapi bukan dengan menyuruhku mundur sebagai Manajer, Har..." jawabku sedikit membantahnya.

Azhar mengangkat bahunya. "Ya sudah. Kalau pendapatku salah, aku minta maaf padamu."

Aku masih kesal.

"Ayolah, Raya... Jangan cemberut dong! Aku sudah minta maaf..." bujuk Azhar berkali-kali.

"Aku sudah memaafkanmu. Ku harap kau tidak lagi menyinggung pekerjaanku ini. Lagipula, kau tidak bangga padaku yang sekarang?" tukasku padanya. Aku benar-benar kesal pada Azhar.

"Bangga, sangat bangga... Aku juga ingin kau tetap menjadi seorang Manajer, Ray..."

"Lalu, mengapa kau menyuruhku mundur?"

"Aku hanya memikirkan kesehatanmu. Itu saja, Sayang..." Kali ini tangan Azhar menyentuh kepalaku. Dengan ujung jari manisnya, dia menggeser rambutku ke balik telinga.

Aku bergidik. Mungkin karena aku belum pernah tersentuh seperti ini.

"Kalau memang kau mampu dan kesehatanmu juga baik-baik saja, tidak masalah. Aku akan mendukungmu apapun itu..." ucap Azhar lagi sembari menatap wajahku.

Aku hanya mengangguk. Tak ada keberanian untuk membalas tatapan itu karena aku takut tersihir akan ketampanan Azhar.

Azhar menggenggam tanganku dengan kuat.

Dapat ku rasakan kehangatan dalam setiap sentuhannya. Apakah ini berarti aku tidak ingin kehilangannya lagi?

"Akhirnya... Datang juga..." ucap Tamara dengan wajah lesu.

Lihat selengkapnya