DIA, AZHARKU

Nina Nola Boang M
Chapter #40

Apa Artinya Aku Tanpamu

Sekarang aku mengerti, mengapa cinta itu buta. Riset juga membuktikannya. Cinta tidak akan pernah tahu kemana dia akan berlabuh. Cinta juga tak tahu siapa yang akan memilikinya. Namun, orang yang memiliki cintalah yang mengerti kemana cintanya dibawa. Sama sepertiku. Aku tahu bahwa orang yang ku cintai adalah Azhar. Aku tahu bahwa dia sudah menikah. Namun, cinta tak peduli itu semua. Hebatnya lagi, tidak ada kata menyerah dalam cinta. Karena pada hakikatnya cinta adalah rasa.

"Kita akan pergi kemana?" tanyaku pada Azhar saat kami akan meninggalkan kafe.

"Kemanapun yang kau mau..." jawab Azhar sambil tersenyum.

Ku lirik jam tanganku. Sudah pukul 15.00 WIB. Sudah terlalu sore untuk memulai petualangan.

"Kenapa, Ray?" tanyanya saat melihatku memandang jam tanganku.

"Sudah jam 3 sore. Apa kita masih bisa jalan-jalan?"

"Memangnya kenapa?"

"Kau bagaimana?"

"Aku? Kau khawatir padaku?"

Aku hanya diam.

"Jika kau mau, sampai pagi pun aku sanggup menemanimu... Bagaimana?" tanya Azhar lagi.

Aku terus berpikir. Bukan tidak ingin bersamanya seharian, tetapi aku takut mengganggu waktunya.

"Ayo!" seru Azhar dan menarik tanganku.

Aku terkejut dan kemudian mengikuti langkahnya menuju mobil. Azhar membukakan pintu mobilnya untukku. Aku masuk ke dalam dan mengatur posisi duduk untuk beberapa saat.

"Untukmu tidak ada batasan waktu, Ray. Pagi, siang, sore, atau malam, aku siap selalu untukmu..." ucap Azhar terlalu dramatis.

"Oya? Kau yakin?" tukasku.

"Sangat yakin!" serunya dengan cepat.

"Berapa persen?" tanyaku mulai dengan obrolan yang tak berfaedah.

"Seribu persen!" seru Azhar dengan diselingi tawanya yang khas.

Aku memukul pundaknya. "Jangan takabur, Har! Nanti Allah marah padamu."

"Aku serius, Raya..." jawabnya.

"Ingat, kau baru saja melukai hati seorang wanita...."

"Karena apa? Karena cintaku padamu tak akan goyah!" serunya sambil bernyanyi di ujung kalimatnya.

"Dasar! Kau memang tidak pernah serius!" Suaraku meninggi.

"Tidak serius? Apa yang ku lakukan sekarang kau anggap main-main?" Azhar menoleh ke arahku. Sudu matanya terlihat tajam. Apakah dia benar-benar marah kali ini?

Aku diam. Ku gigit bibirku menahan ketakutan.

"Seharusnya apa yang sedang ku lakukan saat ini untukmu, bisa kau pahami. Aku memang melukai Shuha, tetapi dengan itu semua perasaanku lebih lega dan tenang. Aku tidak ingin terus menerus terkekang dalam perasaab bersalah. Shuha paham akan hal itu dan menerima dengan baik perceraian kami. Lalu, sekarang kau bilang aku tidak serius?" Mata Azhar masih fokus ke jalan raya, tetapi wajahnya tampak kaku dan serius.

"A-aku... Tidak bermaksud begitu, Har... Kenapa kau langsung berpikiran yang tidak-tidak?" bantahku. Aku memang tidak memiliki pikiran buruk tentangnya.

"Aku sudah terlalu lama menunggu hari dimana bisa bertemu denganmu lagi, Ray... Jadi, aku berharap bahwa pertemuan kita ini akan menjadi awal yang baik untuk hubungan kita selanjutnya..." ucap Azhar.

Aku hanya menundukkan kepalaku. Tak tahu apa yang harus ku katakan lagi karena Azhar sudah sangat serius dengan ucapannya.

"Ray..."

Aku mengangkat kepalaku. "Ya?"

"Aku mencintaimu. Aku tidak bisa hidup tanpamu."

Aku tersentuh dengan kalimat itu. Inilah perasaanku yang sejujurnya untuk Azhar sejak belasan tahun yang lalu. Kini aku mendapat balasan dari rasa itu, walaupun dengan cara yang salah.

"Kau ingin tahu seberapa besar cintaku untukmu?" Azhar melirikku.

"Sebesar apa?"

"Segini!" serunya sembari menunjukkan jari kelingkingnya padaku.

"Hanya segitu?"

Azhar mengangguk.

"Itu bukan besar, Har. Itu kecil."

Azhar menarik jari tanganku dan mengaitkan kelingkingnya di kelingkingku. "Dia akan menjadi besar jika bersatu dengan cintanya..." ucapnya sembari tersenyum memandangku.

Lihat selengkapnya