DIA, AZHARKU

Nina Nola Boang M
Chapter #41

Dimana Ini? Apa yang Terjadi?

"Dokter! Dokter! Tolong!"

"Dokter, tolong selamatkan Naraya! Tolong, Dok!"

Suara seseorang yang sudah tak asing lagi di telingaku, samar-samar terdengar. Mengapa dia menyebut namaku dan berkata seperti itu? Dimana ini? Apa yang terjadi? Mengaoa aku tidak bisa melihat apapun sekarang? Kepalaku rasanya sakit sekali. Ada apa ini?

"Naraya tidak bisa main ice skating, kenapa kau malah membawanya ke sana?" Suara Akmal terdengar sangat keras.

"Aku ingin mengajarinya. Lagipula, ini bukanlah hal yang harus dibahas!" bantah Azhar.

"Tidak perlu dibahas kau bilang??? Ini buktinya! Ini buktinya bahwa masalah sepele itu harus dibahas! Kau lihat, kan???" Akmal hampir saja memukul Azhar karena tidak bisa mengendalikan emosinya.

"Stop!!! Kalian tidak malu bertengkar di Rumah Sakit? Kalian pikir ini cuma masalah kalian berdua saja? Hah?" Tamara mencoba meredam semua amarah dan emosi dari keduanya. Dia tidak ingin melihatku bertambah parah.

"Ini tidak akan terjadi pada Naraya jika kau tidak mengajaknya bermain ice skating! Paham???" ketus Akmal sembari menunjuk wajah Azhar.

"Ini musibah. Tidak ada yang perlu disalahkan. Sekarang bukan waktunya berdebat mencari pembenaran, tetapi doakan Naraya supaya cepat sadar," ucap Tamara sembari memegang lengan Akmal. Dia takut Akmal benar-benar memukul Azhar.

"Aku minta maaf kalau kejadian ini adalah kesalahanku, tetapi aku tidak pernah berpikir akan mencelakainya..." bantah Azhar mencoba membela diri dan menjelaskan semuanya.

Akmal hanya mengendus. Dia benar-benar mengkhawatirkanku. Teriakan, emosi, dan amarahnya membuat ingin sadar dan memeluknya.

"Sekarang apa yang harus kita lakukan? Apa kita harus memberitahu keluarganya?" tanya Tamara pada Akmal.

"Kupikir tidak usah. Mereka akan sangat khawatir," jawab Akmal.

"Biar aku yang memberitahu mereka," saran Azhar.

"Kau! Kau ingin memberitahu keluarga Naraya tentang kecelakaan ini? Kau bisa menjamin, kalau kedua orangtuanya akan baik-baik saja setelah mendengar berita ini?" Akmal kembali tersulut emosi.

"Ini tidak mungkin dibiarkan, Mal. Om dan Tante Laras harus tahu tentang keadaan Naraya..." ucap Azhar memberi penjelasan pada Akmal.

"Baiklah. Kau yang menanggung semua resikonya!" seru Akmal. Matanya merah dan wajahnya kaku. Dia benar-benar kesal terhadap Azhar. Ternyata pria ini menyusulku sampai ke Bandung dan sekarang malah membuatku seperti ini.

"Ya, aku yang akan menanggung semuanya..." jawab Azhar lesu.

Tamara mengelus punggung Akmal dengan lembut. Dia berharap emosi Akmal segera mereda dan dapat berdamai dengan keadaan. Bagaimanapun ini adalah sebuah musibah. Tidak ada orang yang ingin celaka. Tidak ada orang yang ingin mendapatkan musibah. Cara terbaik adalah mendoakanku agar segera sadar.

Azhar melangkah ke sudut bangku yang berada tepat di depan pintu UGD. Dia berharap tidak terjadi apapun padaku. Entah mengapa, saat kami saling menatap satu sama lain, pegangan Azhar terlepas dan kemudian seseorang menabrakku. Aku kehilangan keseimbangan dan terjatuh di lantai es. Tepat di bagian belakang kepalaku. Sangat sakit.

"Aku benar-benar mengkhawatirkan keadaan Naraya, Ra..." ujar Akmal dengan suara serak.

"Aku tahu. Aku juga sama sepertimu, Mal... Tenang! Kita harus terus berdoa untuk keselamatannya..." balas Tamara.

Azhar memandang kedua sahabatku dengan lirih. Wajah bersalahnya tak bisa ditutupi. Kesedihannya melanda setiap organ di tubuhnya. Dia tak pernah menyangka akan membuatku menjadi seperti ini.

Pintu ruangan UGD terbuka. Dokter berjalan keluar ruangan sambil menunduk.

Lihat selengkapnya