DIA, AZHARKU

Nina Nola Boang M
Chapter #42

Hari Kedua Di Sini

Azan subuh berkumandang. Segera Azhar beranjak dari bangku yang berada di luar ruanganku menuju Musholla Rumah Sakit. Pikirannya mulai bercabang, antara menemaniku di sini atau kembali ke Jakarta untuk bekerja. Namun, bagiku kehadirannya sudah sungguh berarti. Berjalan lunglai dengan mata yang masih berat untuk terbuka, pikirannya masih terus berpusat padaku. Kupikir ini bukan kesalahannya karena tidak ada yang tahu kecelakaan itu akan terjadi.

"Kau masih di sini, Har?" tanya Tamara ketika bertemu Azhar di lorong Rumah Sakit.

Azhar membalikkan tubuhnya dan tersenyum pada Tamara. "Ya..."

"Kau tidak pulang?" tanya Tamara lagi. Kelihatan sekali Azhar begitu kelelahan.

"Aku ingin menunggu Raya sampai sadar dari komanya..." jawab Azhar dengan singkat.

"Kau juga harus bekerja, kan?"

Azhar mengangguk.

"Naraya akan baik-baik saja bersama kami di sini. Kau tidak perlu khawatir!" seru Tamara.

"Aku percaya..." jawab Azhar dan melangkah pergi meninggalkan Tamara. Matanya masih sayu, menahan kantuk yang luar biasa. Namun, dia tetap harus bertahan sampai aku sadar dari koma.

Aku mencoba mengetahui apa yang sebenarnya terjadi padaku saat ini. Mengapa mereka semua begitu khawatir? Mengapa mereka semua tidak ingin meninggalkanku di sini sendiri? Apakah benar aku sedang koma? Itu berarti... Aku yang sekarang ini... Aku....

"Azhar masih di sini..." ujar Tamara pada Akmal saat dia kembali ke ruanganku.

"Dia masih di sini? Keras kepala sekali dia!" tukas Akmal. Rasanya tak henti-hentinya amarah Akmal berkobar pada Azhar.

"Wajarlah, Mal... Dia mencintai Naraya..." sahut Tamara.

"Tetapi dia sudah membuat Naraya seperti ini!" balas Akmal dengan setengah berteriak.

Tamara memandang ke arah tempat tidurku. "Suaramu! Kau akan mengganggunya..." ujarnya sembari menoleh ke arahku.

Akmal membalikkan tubuhnya ke belakang dan melihatku. "Aku benar-benar kecewa terhadap pria itu..."

"Hei, come on! Tidak ada yang menginginkan kejadian ini!" seru Tamara.

"Dimana dia sekarang?" tanya Akmal dengan wajah masam.

"Aku bertemu dengannya di Musholla. Mungkin dia masih di sana..." jawab Tamara.

Akmal memakai sandalnya dan bergegas keluar dari ruanganku.

"Kau mau kemana?" tanya Tamara saat melihat Akmal tergesa-gesa.

"Menemui Azhar..."

"Jangan membuat keributan! Ini masih terlalu pagi!" seru Tamara setengah berteriak.

Akmal tak mengacuhkannya. Dia terus berjalan untuk menemui Azhar. Dia tidak ingin pria itu berlama-lama di sini. Apalagi semua ini terjadi karena kelalaiannya.

Lihat selengkapnya