Ah, aku penat. Aku ingin bangun dan berkumpul bersama mereka. Mengapa Tuhan tidak memberiku kesempatan untuk menghabiskan waktu ini dengan tawa dan canda bersama orang-orang terdekatku, terutama ayah dan ibu? Aku merindukan mereka. Aku ingin bangkit dari tempat ini.
"Ini ruangannya, Om..." ucap Azhar sembari menunjuk ruangan dimana aku sedang dirawat sekarang.
Ayah mengangguk. "Ya, terimakasih..." ucap beliau dengan lirih.
Azhar tidak ikut masuk bersama ayah dan ibu. Dia hanya duduk menunggu di luar ruangan. Wajahnya yang letih juga kusut membuat suasana tak lagi berwarna.
Ibu memelukku dengan erat. Air matanya menetes dengan deras. Kesedihannya tak bisa lagi ku gambarkan. Aku pun ikut terenyuh. Ibu pasti tidak menduga akan terjadi seperti ini.
"Nak, ini ibu dan ayah sudah datang. Bangunlah, Nak!" Suara berat Ayah sedikit bergema. Aku tahu beliau sedang menahan tangisannya.
"Nak... Nak..." Ibu terus memanggilku dalam tangisannya.
"Ayah rindu, Nak... Ayah janji tidak akan memaksamu untuk kemauan Ayah... Bangunlah, Nak!" seru Ayah lagi. Kemudian ayah mendekati tempat tidurku, merangkul ibu, dan menggenggam tanganku.
"Apakah dia akan sadar, Yah?" tanya Ibu pada ayah.
Ayah mengangguk. "Dia akan segera sadar, Bu. Teruslah berdoa untuk kesembuhan anak kita..." ucap beliau.
Ibu menangis kembali. Beliau memeluk tubuh ayah dengan erat. Tatapannya kosong, meskipun beliau sedang memandangku sekarang.
Ayah dan ibu keluar dari ruanganku. Mereka berjalan lunglai sembari menutup pintu ruangan itu kembali.
"Om, Tante..." Akmal mendekati kedua orangtuaku dan mengulurkan tangannya.
"Ya..." sahut Ayah. Sementara ibu, tak bisa lagi berkata-kata.
"Saya Akmal dan ini Tamara, teman kerjanya Naraya..." ucapnya sembari tersenyum.
Ayah membalasnya dengan senyuman. "Terimakasih ya, Nak... Kalian sudah menemani dan mengurus Naraya selama kami belum datang."
Akmal mengangguk pelan.
"Mana Azhar?" tanya ayah sambil mencari wajah Azhar di sekelilingnya.
"Erm... Dia sedang keluar sebentar, Om..." jawab Tamara.
"Oh, begitu..."
Ibu duduk di kursi tunggu dengan wajah sembab. Bisa ku pastikan, ibu menangis seharian karena memikirkanku. Kasihan ibu harus berlarut-larut sedih seperti ini.