DIA, AZHARKU

Nina Nola Boang M
Chapter #44

Kompetisi Dimulai

Tamara mengangkat kepalanya setelah beberapa jam tertidur di lantai beralaskan karpet yang tebal. Dia memandang sekelilingnya. Tidak ada siapapun, hanya dia dan aku di sini. Kemana perginya kedua pria itu? Sepagi ini apa yang mereka lakukan? Tamara mengucek kedua matanya dan bangkit. Tirai jendela juga belum dibuka padahal mentari sudah menembus kamar. Dia meraih telepon genggamnya dan melihat jam yang ada di layar. Pukul 06.30 WIB. Pagi yang indah, menurutnya. Tamara melipat selimut dan kemudian berdiri. Dia memandangku, lalu berjalan mendekatiku.

"Kau lihat, kan? Mereka berdua sedang berlomba untuk mendapatkanmu, Nay. Mereka berdua berusaha menjadi yang terbaik di hadapanmu. Hebat sekali! Kau beruntung. Menjadi tambatan hati para pria tampan dengan kemapanannya masing-masing. Namun, mengapa kau malah menyia-nyiakan semuanya? Kau tahu bagaimana aku berusaha mencari perhatian Akmal? Bagaimana aku berusaha membuatnya jatuh cinta padaku? Bagaimana aku menjadikannya seseorang yang sangat ku butuhkan dalam hidupku? Sulit, Nay... Sangat sulit karena dia terlalu menggilaimu... Andai saja kau bisa menetapkan hatimu untuk siapa, mungkin Akmal tidak akan seperti ini...." Tamara mengungkapkan isi hatinya padaku. Wajah sendu karena baru saja bangun, membuatnya tampak sedikit menyedihkan.

Aku melihat raut wajahnya yang sendu itu. Ada kecemburuan yang terpancar dari sana. Bukan baru sekarang aku memahaminya, tetapi sudah sejak lama aku tahu bahwa Tamara menyukai Akmal. Dia memang secara terbuka mengatakan padaku bahwa dia menyukai pria itu. Inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa aku tak pernah bisa menjawab setiap ungkapan perasaan pria itu. Ditambah lagi dengan cintaku pada Azhar yang begitu besar.

Pintu ruanganku terbuka tiba-tiba. Tampak Akmal dan Azhar masuk ke dalam secara bersamaan.

"Kenapa kau tidak bisa mengalah sedikit?" tanya Azhar saat badannya tertahan di pintu.

Sementara itu, Akmal tak acuh dengan perkataan Azhar. "Aku yang duluan masuk!" serunya.

Tampak Azhar menghembuskan napas... "Right! Silakan!" serunya dan mundur dari pintu. Dia menyuruh Akmal untuk masuk lebih dulu darinya.

Tamara menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kalian ini kenapa sih? Pagi-pagi sudah membuat keributan! Ini rumah sakit bukan rumah makan!" ketusnya.

Akmal tersenyum dan mendekati Tamara. "Tidak ada pertengkaran. Tidak ada keributan. Kami berdua aman-aman saja..." jawabnya.

Tamara melirik Azhar yang kemudian masuk ke dalam ruangan dengan wajah kesal.

"Hanya orang bodoh yang membuat kegaduhan di rumah sakit, Sayang..." sambung Akmal lagi sembari membelai rambut Tamara.

Tamara menatapnya. "Kau baik-baik saja, kan?" tanyanya sembari memegang dahi Akmal.

Akmal mengangguk. "Baik. Sangat baik."

Tamara kembali melirik Azhar yang sedang membuka tirai jendela. Pria itu tampak tenang dan santai. "Kau darimana?" tanyanya pada Akmal.

"A-aku... Aku... Dari lantai bawah..." jawab Akmal terbata-bata.

"Untuk apa? Ada apa di sana?"

"Tidak... Tidak ada apa-apa... Aku hanya berolahraga sebentar," jawab Akmal lagi.

"Oh... Kau sudah sarapan, Mal?" tanya Tamara lagi.

Lihat selengkapnya