Azhar mendekati tempat tidurku. Tanpa dia sadari, air matanya menetes dan membasahi bagian pipi kiriku. Aku bisa merasakannya, tetapi tak bisa mengatakannya. Bibirku kelu dan tubuhku tak berdaya. Bahkan, mataku pun tak mampu terbuka. Aku ingin kembali seperti dulu, Tuhan. Ku mohon padamu, sembuhkan aku!
"Ray... Sudah 12 hari kau seperti ini. Apakah kau tidak lelah harus terus berbaring? Aku sangat merindukanmu, Ray... Aku benar-benar rindu..." Suara Azhar terdengar parau diiringi isak tangisnya yang tertahan di kerongkongan.
Aku ingin memeluknya dan membuatnya tenang, tetapi tak mungkin.
"Aku sudah sangat bersalah karena membuatmu seperti ini. Seharusnya itu tak pernah terjadi jika aku mendengar penolakanmu untuk tidak bermain ice skating. Aku benar-benar bodoh..." Azhar memukul kepalanya dengan menggerakkan tangan kananku. Lalu, dia mencium telapaknya dengan lembut.
Aku bisa merasakannya, tetapi tetap tak bisa mengatakannya.
"Aku ingin sekali melihatmu tersenyum, Ray. Ku mohon sadarlah! Aku sepi."
Air mataku rasanya sudah penuh, tetapi tertahan karena tubuhku benar-benar tak berfungsi seperti sedia kala. Aku tahu ini sangat menyakitkan.
Tiba-tiba, pintu ruanganku terbuka. Seorang wanita dengan jilbab maroon panjang selutut dan cadar berwarna senada masuk ke dalam. Shuha menutup pintu itu kembali. Dia melirikku.
"Shuha?" tanya Azhar merasa tak percaya saat wanita yang pernah menjadi istrinya datang untuk melihatku, si pengkhianat. Sepertinya itu adalah julukan yang pantas untuk wanita jahat sepertiku.
"Apa Naya baik-baik saja, Mas?" tanya Shuha sembari berjalan mendekati tempat tidurku.
"Dia koma."
"Allahu Akbar. Sudah berapa lama?" tanya Shuha lagi.
"12 hari."
"Selama itu?" Shuha menggenggam tanganku. Terasa hangat sekali.
Azhar mengangguk.
"Apa yang terjadi padanya?" Shuha masih terus menggenggam tanganku tanpa menoleh sedikitpun ke arah Azhar.
"Aku yang membuatnya seperti ini..." jawab Azhar dan mengulum bibir.
"Kau? Bagaimana bisa, Mas?"
"Aku tidak mendengar kata-katanya. Kecelakaan itu terjadi saat kami sedang bermain ice skating. Naraya tidak bisa melakukannya, tetapi aku memaksanya untuk bermain..." jelas Azhar.
Shuha menggelengkan kepalanya. "Semua terjadi bukan karena kesalahanmu, tetapi ini sudah jalan dari Yang Maha Kuasa..."
"Apapun itu alasannya, tetap akulah yang bersalah..." ucap Azhar.
Shuha memandang pria yang berwajah sendu itu. "Kau tidak salah, Mas. Jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri. Ini akan membuat Naya semakin sedih..."
Azhar mencoba mengangkat kepalanya dan memandang wajah Shuha. "Aku harus bagaimana sekarang? Andai saja aku bisa menyembuhkan Raya, akan secepatnya dia sembuh. Namun, aku tidak bisa. Aku benar-benar tidak bisa, Shu..." jawabnya dan tak berapa lama air matanya menetes kembali.
Shuha menghela napas. "Berdoalah untuk kesembuhan Naya. Allah pasti mendengar doa-doa kita, Mas..."