DIA, AZHARKU

Nina Nola Boang M
Chapter #46

Hari ke-15 Membuatku Semakin Penat

Aku berharap ini semua tak pernah terjadi. Cintaku pada Azhar, kisahku yang tak tahu kapan berakhir, dan perpisahan mereka. Aku merasa penat dengan semuanya. Apalagi semakin lama, tubuh ini semakin tak bisa ku gerakkan. Seakan-akan lumpuh dan membuatku menjadi orang yang paling menderita. Aku ingin sembuh, Tuhan! Aku ingin kembali bersama dengan orang-orang yang ku sayang.

"Ayah, sampai kapan kita harus menunggu Raya? Ibu sudah tidak tahan melihatnya seperti ini. Jarum-jarum ini membuatnya menderita..." Suara serak ibu membuatku ikut menangis.

"Ibu menyerah?" tanya Ayah dengan nada memelas.

Ibu hanya menangis.

"Kalau Ibu menyerah, bagaimana dengan Ayah? Apakah Ayah juga harus menyerah?" Ayah menatap Ibu dengan sangat tajam.

"Ibu... Ibu... Hanya... Ibu... Hanya tidak kuat, Yah. Ibu tidak tahan..." Ibu masih terus menangis.

"Sabar, Bu. Ayah yakin Raya akan segera sadar. Raya adalah gadis yang kuat. Dia juga sedang menatap kita di sini. Ayah tidak mau dia ikut bersedih dan pasrah karena Ibu. Sabar, Bu!" seru Ayah sembari merangkul ibu dengan erat.

Ibu membenamkan kepalanya di dada ayah sambil menangis. Tangisan beliau memenuhi ruangan ini hingga tanpa sadar aku pun meneteskan air mata.

"Bu..." Ayah menepuk pundak ibu dengan pelan.

Ibu mengangkat wajahnya. "Ya?"

"Lihat, Bu! Lihat! Raya meneteskan air mata..." ucap Ayah dengan senyum yang merekah.

Ibu menghapus air matanya dan mendekatiku. "Raya... Raya... Bangun, Nak. Ibu di sini. Bangun, Nak!" seru Ibu setelah mengetahui bahwa aku mulai merespon.

"Dia mulai merespon kita, Bu. Ayah panggil dokter dulu ya!" seru Ayah dan bangkit dari kursi.

"Cepat, Yah! Cepat!" balas Ibu.

Aku masih terus meneteskan air mata. Rasanya hatiku hancur melihat duka di mata kedua orang tuaku. Belum pernah mereka serapuh ini, seperti kehilangan belahan jiwa. Aku merasa sangat bersalah melihat keadaan ayah dan ibu seperti ini.

Entah apa yang terlintas dalam benak Azhar. Dengan cepat, pria itu menyambar ranselnya dan bergegas keluar dari apartemen. Dia menuju ruang parkir bawah dengan wajah kalut, tetapi juga bahagia. Berita tentangku yang mulai merespon sekeliling membuatnya membatalkan rapat penting yang harus dihadirinya siang ini. Azhar masuk ke dalam mobil dan mengemudikannya dengan kencang.

"Om dimana, Tante?" tanya Akmal pada ibu yang saat kejadian itu sedang berada di luar.

"Sedang memanggil Dokter, Nak..." jawab Ibu sambil terus memegang tanganku. Air matanya pun terus mengalir.

"Akmal akan menyusul beliau... Tante tunggu di sini ya!" seru Akmal.

Ibu mengangguk.

Akmal keluar dari ruanganku dan melangkah menuju ruang Dokter. Dia mengambil telepon genggam dari dalam saku celananya dan mencari nama Tamara. Sesaat kemudian, panggilannya diangkat.

"Ya, Mal..." jawab Tamara dari seberang.

"Naraya...."

Lihat selengkapnya