Azhar melangkah dengan penuh kebahagiaan. Sudah 15 menit yang lalu, dia tiba di Rumah Sakit. Namun, tiba-tiba ada sebuah telepon dari kantor dan membuatnya harus terlambat masuk ke ruanganku. Seandainya saja dia datang tepat pada waktunya, dia pasti akan mendengar semua pembicaraan Dokter. Tak disangka pula, begitu dia masuk ke dalam ruanganku, Akmal memukulnya tanpa aba-aba hingga tubuhnya terpental kuat ke arah pintu.
"Kau!!!!!!" teriak Akmal dengan sangat keras.
Azhar memegang pipinya yang mulai membiru sembari meringis kesakitan. Namun, dia menahannya dan berusaha tetap kuat di hadapan semua orang.
"Seharusnya kau tidak usah kembali lagi ke dalam hidup Naraya!" seru Akmal dengan geram.
Azhar memandang pria kekar itu dengan heran.
"Apa yang pernah kau lakukan padanya di masa dulu, seharusnya menjadi masa lalu. Kenapa kau harus datang kembali??" Akmal terus berteriak pada Azhar.
"A-aku... Aku... Tidak mengerti." Azhar melirik ke arah ayah dan ibu.
"Memang kau tidak akan pernah mengerti!" Akmal membuang wajahnya.
"A-aku minta maaf atas semuanya, tetapi aku benar-benar tidak mengerti dengan yang terjadi saat ini." Azhar kembali menegaskan bahwa dia benar-benar tidak mengerti dengan keadaan yang sekarang mereka hadapi.
Ibu menangis lagi. Air matanya mengalir tanpa henti.
"Tante..." Suara lembut Azhar terdengar di telingaku.
Ibu memandangnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah Tante mengatakan bahwa Raya sudah mulai membaik?" tanya Azhar sembari berjalan mendekati ibu.
Ibu mengangguk pelan. "Ya... Dia memang sudah bisa merespon."
"Lalu, mengapa keadaannya seperti ini? Mengapa Tante menangis?" tanya Azhar yang semakin heran.
"Kau bertanya mengapa Tante menangis, hah?" Sepertinya kekesalan Akmal pada Azhar belum juga reda.
"Aku mengatakan yang sebenarnya..."
"Sudahlah, Nak Akmal! Sudah... Kalian tidak usah bertengkar lagi! Tidak ada yang akan terjadi pada Naraya..." sahut ayah yang merasa kasihan melihat Azhar yang tampak tak tahu apapun.
"Om, laki-laki ini sudah membuat Naraya seperti itu. Bahkan, keadaannya akan tetap memburuk walaupun dia sadar nanti..." tukas Akmal.
Azhar menoleh ke arah Akmal. "Apa katamu?"