DIA, AZHARKU

Nina Nola Boang M
Chapter #48

A New Life

Sangat mengecewakan ketika orang yang kita sayang harus terjebak dalam posisi yang rumit. Apakah dengan mengakhiri semuanya akan mengembalikan hari-hariku yang sudah terlewat begitu saja? Kini aku harus menanggung penyesalan yang teramat dalam setelah kepergian Azhar beberapa waktu lalu. Saat aku masih berada dalam fase penyembuhan, diapun tak tampak, hilang bak ditelan bumi. Setiap hari aku menunggunya duduk di sampingku sembari menggenggam erat tanganku, tetapi dia tidak datang lagi. Dimanakah dia kini? Dimanakah dia? Dimana Azharku?

"Kau akan segera pulang, Nay..." ujar Akmal sembari tersenyum dengan manis. Dia baru saja datang dari luar sembari membawa sebotol air mineral.

Aku hanya memutar kedua bola mataku. Tak ada rasa yang harus ku rasakan karena semuanya terasa hambar setelah aku mencoba mengingat semuanya.

"Kau tidak merasa bahagia?" tanyanya lagi setelah aku tak memberikan jawaban apapun. Dia duduk di sampingku.

Aku mengalihkan pandangan ke luar jendela. Langit biru dengan awan putih tampak di luar, seperti sebuah lukisan. "Kapan?" tanyaku pelan.

"Erm... Mungkin 3 atau 4 hari lagi..." jawab Akmal.

Aku menghela napas.

"Dokter masih akan terus memeriksa keadaanmu, walaupun kau bilang kau sudah baik-baik saja..." jelas Akmal lagi. Dia mengambil segelas air putih dan memberikannya padaku.

"Apa yang akan ku lakukan setelah keluar dari sini?" tanyaku seakan tak mengerti arti hidupku selanjutnya.

"Erm... Bekerja. Ya, kau akan bekerja kembali..."

"Bekerja? Dimana?"

Akmal menghembuskan napasnya dengan perlahan-lahan. "Kau adalah seorang Manajer di Perusahaan Perbankan terkenal di Jakarta. Aku yakin banyak yang akan menyambutmu nanti di sana..."

"Kau sendiri?"

"A-aku?" tanya Akmal sembari menunjuk dirinya.

Aku mengangguk.

"Aku... Aku hanya karyawan biasa, Nay..." jawab Akmal dengan tawanya yang khas.

"Kita berdua satu kantor?" tanyaku.

Akmal mengangguk. "Ya..."

"Apakah ada orang lain lagi yang mengenaliku seperti kau?" tanyaku sembari mengernyitkan dahi.

"Maksudmu mengenalmu dengan sangat dekat?"

Aku mengangguk.

Akmal diam sejenak. "Kurasa... Kurasa hanya aku dan Tamara."

Aku mengangguk lagi. "Tamara?"

"Dia seorang wanita yang tidak pernah putus asa, tidak pernah patah semangat, dan selalu berani mengambil keputusan," jelas Akmal.

"Oya? Dia pacarmu?" tanyaku heran.

"Hah?" Akmal terkejut kemudian dia tertawa lebar.

"Kenapa kau tertawa?"

Lihat selengkapnya