DIA, AZHARKU

Nina Nola Boang M
Chapter #49

Siapa Wanita Ini? Apakah Aku Pernah Mengenalnya?

Wanita muda dengan gamis berwarna hijau botol dan wajah yang ditutupi cadar dengan warna senada menarik kursi yang berada di seberang tempat tidurku. Dia duduk di sebelahku sembari meletakkan tas tangannya di atas meja.

"Apakah kau sudah benar-benar membaik sekarang, Nay?" tanyanya dengan sangat lembut sekali.

Aku sedikit terperanjat, tetapi berusaha untuk tetap tenang. "Ya. Aku merasa sudah baik-baik saja..." jawabku pelan.

"Alhamdulillah... Syukurlah, akhirnya kau sadar. Aku sangat senang mendengar berita ini. Apa kau mengenalku?" tanyanya lagi sambil memainkan matanya. Hanya mata dan batang hidungnya yang mancung yang bisa ku lihat, selebihnya tidak.

Aku menggeleng perlahan-lahan. "Tidak. Memangnya kau siapa?" tanyaku.

Dia tertawa kecil. Aku mendengarnya.

"Apa kau mengenalku?" tanyaku kembali padanya.

Dia mengangguk. "Aku sangat mengenalmu..."

Aku terkejut. Dia sangat mengenalku. Itu berarti dia adalah salah satu orang yang pernah menjadi masa laluku.

"Kau adalah Naraya Prameswari, seorang Manajer di perusahaan Perbankan terkenal di Jakarta. Kau seorang gadis baik hati dan juga setia." Sepertinya dia sedang mendeskripsikan diriku.

Aku melotot.

"Aku Shuha. Kita adalah keluarga..." ujarnya setelah beberapa detik memandangku dengan lirih.

"Keluarga?"

Shuha mengangguk. "Aku sudah menganggapmu lebih dari seorang teman. Apalagi aku tidak memiliki siapa-siapa di kota ini..." jelasnya.

Aku menggigit bibir. Aku mencoba mengingatnya. Darimana aku mengenal wanita ini? Apakah dia teman sekantorku? Atau teman sekolahku? Atau... Ah, kepalaku mulai sakit lagi. "Auucchhh..." jeritku sembari memegang kepalaku secara spontan.

"Nay... Naya... Kau baik-baik saja?" tanya Shuha. Dia begitu khawatir tampaknya.

"K-kepala... K-kepalaku...."

"Kenapa, Nay? Kenapa dengan kepalamu?" Shuha ikut memegang kepalaku.

"Sakit. Sakit sekali! Aku tidak tahan!" seruku dengan sangat kesakitan.

"Aku akan memanggil Dokter. Kau tunggu sebentar ya!" serunya dan segera pergi keluar.

Aku masih terus memegang kepalaku yang berdenyut. Entah kenapa setiap aku berusaha mengingat semuanya, kepala ini seperti memberi signal bahwa aku tidak akan bisa mengingat semuanya kembali. Dia langsung berdenyut dengan kuat seakan-akan menarik nyawa dari ragaku. Denyutannya sangat menyakitkan sehingga aku tidak mampu menahannya.

"Ada apa? Kenapa?" tanya Akmal saat melihat Shuha berlari dari arah kamarku.

"Naya... Dia memegangi kepalanya terus..." jawab Shuha dengan sangat hati-hati.

Akmal segera berlari dan masuk ke dalam ruanganku. Khawatir yang berlebihan membuatnya selalu takut akan terjadi sesuatu padaku.

"Raya, kau baik-baik saja?" tanyanya sembari memegang kepalaku.

Lihat selengkapnya