Sudah waktunya untuk pulang. Dengan senyum bahagia, aku mengambil ponselku yang berada di atas meja. Ku sentuh layarnya dan mencoba memasukkan kode kunci agar terbuka. Namun, beberapa kali aku mencoba, ponselku tidak terbuka juga.
"Ada apa, Sayang?" tanya Ibu melihatku gusar di atas tempat tidur.
"Ponsel Raya tidak terbuka. Raya lupa kodenya," jawabku tanpa melihat wajah ibu. Aku terus menatap ke layar ponsel.
Ibu mendekatiku. "Coba gunakan tanggal lahirmu!" seru beliau.
Aku mengangguk dan mencoba apa yang disarankan oleh ibu. Namun, tidak juga terbuka. "Um, sepertinya aku harus membawanya ke tukang reparasi, Bu."
Ibu mengangguk. "Ya, kau benar. Ibu juga takut nanti ponselmu akan rusak karena salah memasukkan kode terus-menerus.
Sejak kepulanganku dari rumah sakit seminggu yang lalu, banyak hal yang terjadi. Mulai dari kode kunci apartemen, kode kunci ponsel, dan pin atm pun, aku lupa. Tak ada yang ku ingat selain kecelakaan itu. Setelah itu, rasanya semua buyar.
"Kalau direset ulang saja, bagaimana, Mbak?" tanya pegawai konter padaku.
"Itu berarti semua file, foto, dan hal-hal penting dalam ponsel ini akan hilang, Mas?" tanyaku dengan ragu-ragu.
"Tergantung, Mbak. Kalau Mbak membuat cadangannya, pasti akan tersimpan dan tidak hilang," jawabnya.
Aku mendengus. Aku lupa apakah aku sudah membuat cadangannya atau belum? Namun, aku sangat membutuhkan ponselku sekarang.
"Memang, sih, tidak semua data hilang. Beberapa akan tinggal dan tersimpan," tambahnya.
"Ya sudah, Mas. Direset saja."
Pegawai itu tersenyum. Kemudian, dia membawa ponselku untuk diperbaiki.
Aku menunggu dengan gelisah. Jika itu benar, maka semua hal yang pernah ada sebelum kecelekaan itu terjadi akan hilang. Bagaimana aku mengulang kehidupanku yang benar-benar membingungkan ini?
Ku tatap langit sore sembari menyeruput susu coklat hangat yang dihidangkan pelayan kafe. Kupikir dengan keluar sendirian, aku mendapat ketenangan. Aku malah tetap gelisah. Sepertinya ada yang hilang dari kehidupanku, tetapi aku tak tahu bagian mana. Ku tatap kembali layar ponselku. Sudah berubah. Seperti ponsel baru dibeli. Pegawai itu bohong. Data apapun tak tertinggal. Aku sudah kehilangan semuanya.
Suara Akmal membuatku terkejut. Dia duduk di sebelahku. "Ada apa menyuruhku datang ke sini?" tanyanya.
Aku tersenyum. "Aku butuh teman ngobrol. Sudah lama rasanya tidak bercerita. Apa kau punya cerita baru, Mal?" tanyaku.
"Aku akan membawa cerita baru setiap hari untukmu, Ray. Asalkan kau...."
Aku mengernyitkan dahiku. "Asalkan apa?"
"Sudahlah, tidak apa-apa," jawab Akmal dengan cepat.
Aku memperhatikannya. Dia membuka buku menu dan mulai memanggil sang pelayan.
"Bagaimana dengan ponselmu?" tanya Akmal saat melihatku mulai mengoperasikan ponselku.
Aku mendengus. "Semuanya hilang. Tidak ada file apapun yang tertinggal," jawabku dengan lirih.
"Kau lupa mencadangkannya?" tanya Akmal.