Matahari sore ini sepertinya belum ingin tenggelam meninggalkanku yang berjalan penuh kegelisahan dan hati yang berdebar-debar menuju rumah paling ujung di seberang sawah sana. Aku sudah bertekad ingin melihat Azhar secara langsung dan membuktikan sendiri semua omongan yang ku dengar tentang dirinya. Rasa penasaran yang begitu menggebu-gebu dalam hatiku membuatku mengambil langkah ini. Apapun yang terjadi nanti, aku yakin bahwa aku tidak salah melihatnya. Langkahku terhenti. Aku sudah sampai di depan sebuah rumah besar dengan pagar besi yang menjulang tinggi. Dari balik besi ini dapat ku lihat bangunan megah berwarna emas itu berdiri dengan kokoh. Aku mencoba menerobos pintu masuk dan ternyata tidak ada yang menjaga gerbang ini. Syukurlah! Derap langkahku sedikit goyah. Apakah aku harus melanjutkan keinginanku ini atau lebih baik aku kembali saja ke rumah. Masih berada di gerbang, ku pandang rumah Azhar yang sedikit berbeda dari yang sebelumnya. Rumah ini terlihat lebih rapi dan bersih.
"Assalammualaikum..." ucapku memberi salam dari luar rumah. Belum ada satupun orang yang menyahut salamku sejak aku berdiri di depan ini. Aku mengulangnya beberapa kali dan berharap ini adalah salam yang terakhir. Tiba-tiba, terdengar seseorang membalas salamku dari dalam rumah.
"Wa'alaikumsalam," Azhar keluar dari dalam sebuah ruangan.
Betapa kagetnya aku! Hampir saja aku tak percaya bahwa cinta pertama selama bertahun-tahun yang ku simpan rapat dalam hatiku sedang berdiri di hadapanku sekarang. Dia sedang memandangku dengan wajah tampannya yang tak pernah luput dari ingatanku. "Azhar?" tanyaku setengah berbisik saat dia berjalan ke luar.
Dia mengerutkan dahinya. "Ya?"
"Kau... Azhar, kan?" tanyaku dengan suara lantang sekadar meyakinkan penglihatanku yang mudah-mudahan tidak salah.
Dia mengangguk. "Ya, benar. Aku Azhar..." jawabnya. Dahinya masih mengerut saat memandangku.
Aku diam sejenak dan menghela nafas agak panjang. Mengapa pria ini seperti tidak mengenaliku? Dia menunjukkan respon seolah-olah tidak mengenalku. Sikapnya tampak kaku dan sungguh berbeda.
"Kau siapa?" tanyanya tiba-tiba.
Sontak saja aku melotot ke arahnya. Dia tak mengenaliku ternyata. Dia tidak tahu namaku. Apakah benar yang ibu dan Marsha katakan? Benarkah ini Azhar teman masa kecilku? Benarkah dia cinta pertamaku? Benarkah dia Azharku?
"Maaf, kau ingin bertemu dengan siapa?" tanyanya sekali lagi. Dia memandangku dengan sangat tajam.
"Aku..." Bibirku terasa kaku. Kata-kata yang sudah tersusun rapi di benakku, hilang begitu saja saat tatapan tajam itu memandangku. Saat aku ingin melanjutkan kalimat, seorang wanita berjilbab merah muda yang menutupi setengah tubuhnya keluar dari dalam ruangan yang sama dengan Azhar.
Dia menatapku dengan heran. "Siapa, Ay?" tanyanya pada Azhar.
Aku kembali terheran-heran dengan pemandangan sore ini. Pemandangan di hari Idul Fitri yang telah ku tunggu-tunggu selama 3 tahun belakangan. Pemandangan yang membuat hatiku remuk redam. Wanita ini memanggil Azhar dengan sebutan Ay? Apakah Ay itu merupakan singkatan dari kata Ayang? Atau... Ah, aku masih tak percaya dengan semua yang terjadi di hadapanku.
Azhar tersenyum pada wanita itu. "Aku tidak mengenalnya, Sayang," jawabnya dengan lembut.
Aku ingin mengutuk diriku sendiri. Mengapa ini harus terjadi di hadapanku? Kali ini, Azhar juga memanggilnya dengan sebutan sayang. Benarkah ini? Tubuhku bergetar dengan hebat. Ada rasa panas yang membara di dalam tubuhku, tetapi terasa dingin di luar saat angin mencoba menerpaku yang masih berdiri di depan pintu rumah pria pujaanku. Aku mencoba merapikan pashmina yang ku lingkarkan begitu saja di leher. Angin seolah ingin membawanya terbang. Mulutku sudah menganga saat aku mendengar suara langkah seseorang.
Tiba-tiba, Nyonya Brigham datang dari luar rumah dan langsung menyapaku. "Naraya???" seru beliau sambil tersenyum. Beliau memperhatikanku dari ujung rambut sampai ujung kaki dan merasa takjub dengan kehadiranku di sini.
"Tante?" sahutku sedikit kaget dan membalas senyumannya.