Sebuah tanda tanya besar mengiringi langkahku keluar dari dalam rumah megah itu. Apakah benar rumah yang ku datangi itu adalah rumah seorang Azhar Brigham? Ataukah aku sedang salah alamat sekarang? Rasanya aku sedang berada di belahan dunia lain. Hawa yang sangat berbeda dari hawa rumah seorang Azhar setelah belasan tahun tidak bertemu. Dia menumbuhkan rasa kecurigaan yang besar. Jiwa jurnalistikku keluar begitu saja. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Azhar? Mengapa dia sangat berbeda dari Azharku?
"Aku sudah bertemu dengan Azhar..." ucapku pada Marsha siang ini saat kami sedang makan siang di sebuah Mall terkenal di kotaku. Hari ini genap 2 minggu aku berada di kota ini. Namun, semuanya di luar dugaan. Aku berharap dapat bertemu dan bertukar kerinduan dengan pria pujaanku itu, tetapi ternyata cerita ini sangat berbeda dari harapan.
"Oya?" Marsha sedikit tersentak mendengar ucapanku. Dia meletakkan sendoknya di piring dan menatapku dengan heran.
"Dia semakin tampan, semakin kekar, dan semakin membuatku canggung berhadapan dengannya..." Aku mencoba tenang menceritakan kisah sedih itu. Itu memang ku anggap seperti kisah sedih yang tak berujung saat ini. Saat menemukan cinta yang tersimpan dengan sangat lama di dalam hati, ternyata telah berdua adalah kesedihan yang entah sampai mana akan berhenti.
"Dia memang tampan, kan? Dari dulu..." sahut Marsha. Wanita itu kembali menyantap makanan yang ada di hadapannya.
Aku mengangguk. "Ya, ketampanannya tidak luput setelah belasan tahun tidak bertemu. Bahkan, tak bisa hilang dari ingatanku," jelasku lagi sembari menyendokkan sepotong steak ke dalam mulut.
"Kau memujinya ya? Haha... Tidak berubah memang! Rasanya aku tidak bisa membuatmu lupa akan Azhar. Cintamu sudah sangat egois, Ya!" Shinta tertawa kecil.
"Aku yang egois bukan cinta! Cinta akan tetap seperti itu. Suci dan tulus. Namun, orang yang membawa cinta itu yang membuatnya akan selalu dipersalahkan..." ujarku dengan lugas.
"Wah, sejak kapan sahabatku ini menjadi pujangga dadakan?" goda Marsha dengan senyum usilnya.
"Sejak hatiku mulai terkikis sedikit demi sedikit. Ah, sudahlah!" seruku dan mengalihkan pandanganku ke luar jendela.
Marsha memandangku dengan heran. "Ada apa sebenarnya, Ya? Kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku." tanyanya.
Aku masih memandang keluar jendela sebelum akhirnya menjawab pertanyaannya. "Apakah wanita yang kau lihat itu memiliki tahi lalat di bawah bibir sebelah kanannya, Sha?" tanyaku pada Marsha. Aku ingin memastikan kalau wanita yang dilihatnya bersama Azhar adalah wanita yang sama dengan yang diceritakan oleh Marsha.
Marsha mengernyitkan dahinya sambil mengangguk. "Iya. Bulu matanya juga sangat lentik sekali, bibirnya tipis, dan alis matanya tebal. Kalau kupikir-pikir, wanita itu sepertinya juga blasteran. Ku akui dia memang sangat cantik, Ya!" jawabnya dengan jujur.
Aku melirik Marsha. "Indonesia-Arabian. Dia memang seorang blasteran." Aku menjawab dugaan Marsha dengan cepat.
"Kau tahu, Ya? Apakah kau juga sudah bertemu dengannya?" tanya Marsha.
Aku mengangguk. "Aku sudah bertemu dengan Shuha. Dia adalah istri Azhar."
"What? Kau serius, Ya?" Pertanyaan yang membuat jantungku semakin kencang berdetak.
Aku mengangguk lagi. Ku sandarkan tubuhku ke bantalan kursi yang sedang kami duduki sekarang. "Namanya Shuha Firdausy. Dia seorang reporter di salah satu stasiun TV di London. Dia mulai dikenal saat meliput perang di Suriah dan Gaza. Reporter yang tak takut mati, menurutku. Ya, kan?" Aku menceritakan beberapa bagian penting dari informasi yang ku dapat melalui Nyonya Brigham saat berkunjung kemarin.
"Dari mana kau mengetahui semua itu?" Raut wajah Marsha berubah.
"Kau ragu aku memberimu informasi yang tidak valid?" tanyaku dengan sedikit kesal.
"Oh, Tuhan! Bukan begitu maksudku, Naraya Prameswari. Aku hanya heran kau dapat mengetahui informasi ini begitu cepat. Bahkan, aku saja belum mendapatkan informasi apapun tentang Azhar." Marsha mengelus punggung tangan kananku.
Aku memandangnya. Aku tahu bukan begitu maksudnya, tetapi emosiku saja yang tak bisa ku tahan. "Kau lupa bahwa kami adalah tetangga?"
"Oh My God! Kau benar sekali! Aku lupa kalau kalian adalah tetangga..." jawab Marsha sembari mengangguk.
Aku hanya meliriknya.