DIA, AZHARKU

Nina Nola Boang M
Chapter #51

Gombalan Akmal

Tamara memandang Akmal dengan tajam. "Kau bermain dengan perasaan Raya, Mal."

Akmal menggeleng. "Aku sedang memperjuangkan perasaanku," jawabnya dengan cuek. Tamara sedang menyudutkannya sekarang.

"Dengan membodohi Raya? Dengan berpura-pura menjadi kekasihnya? Dengan menghilangkan sosok Azhar?" Tamara memukul dada Akmal.

Akmal mendengus. "Kupikir kau juga akan melakukan hal yang sama untuk mendapatkan orang yang kau cintai. Ya, kan?"

"Tidak. Aku tidak sama sepertimu," bantah Tamara.

"Alah. Itu ucapanmu sekarang, coba saja saat kau berada di posisiku?" sanggah Akmal dengan ketus.

"Aku masih memakai logikaku, Mal."

"Logika? Cinta akan kehilangan logikanya saat dia sudah hanyut dalam perasaan itu. Dan itu yang ku lakukan sekarang," bantah Akmal sekali lagi.

Tamara diam. Di tahu bahwa apa yang sedang dilakukan oleh Akmal adalah salah. Namun, apapun yang dikatakannya tentang cinta adalah benar. Saat kau mencintai seseorang dan hanyut dalam perasaan itu, maka tak ada lagi logika.

"Apa yang sedang ku lakukan sekarang adalah sebuah perjuangan, Ra. Kau tahu, kan, sudah berapa lama aku mengejarnya?" ucap Akmal dengan nada lirih.

Bagaimana jika Naraya sadar dan mengetahui kebenarannya? Dia tidak ingin Akmal menanggung resiko yang besar. Bukan saja kebencian yang akan hadir, tetapi persahabatan mereka juga menjadi taruhan.

"Perasaanku pada Naraya benar. Tidak main-main." Akmal menatap tajam ke arah Tamara.

"Tapi kau tetap salah, Mal!" ucap Tamara dengan nada keras. "Aku akan memberitahu Naraya semua kebenarannya," lanjutnya.

"Jangan gila, Ra!" seru Akmal dengan keras.

"Kau yang gila!" Tamara balik berteriak di hadapan Akmal.

Akmal terdiam. Dia tidak bisa lagi mengelak. Tamara tidak akan pernah berhenti menyalahkannya. Dia harus diam dan mendengar semua kata-kata wanita itu.

"Seharusnya kau melindungi Naraya bukan malah memanfaatkan keadaannya. Dia hanya mencintai Azhar, Mal. Kau sadar hal itu," ucap Tamara hampir menangis.

Akmal masih diam. Otaknya berpikir keras tentang semua kalimat Tamara.

"Naraya sedang kehilangan ingatannya, sementara Azhar juga menghilang. Mau sampai kapan kau membohongi Naraya?" Lagi-lagi Tamara hampir menangis.

"Ah sudahlah, Ra. Kau tidak akan pernah mengerti dengan semua yang ku lakukan untuk Naraya," bantah Akmal dengan keras. Dia keluar dari pantry sembari menggerutu hebat.

Lihat selengkapnya