Ku masukkan pouch yang berisi peralatan make up ke dalam sling bag kesayangan. Ku rapikan rambut yang panjang tergerai dan mengikatnya di bagian tengah dengan sangat rapi. Aku tidak ingin terlihat tidak cantik di hadapan orang-orang, terutama Azhar. Ku tambah lagi polesan terakhir di wajah setelah bercermin beberapa kali dan sekarang aku siap menunjukkan diri di depan umum dengan wajah sumringah. Aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Azhar. Aku tidak ingin menjadi orang yang hidup dalam rasa penasaran yang sangat besar. Apalagi ini adalah masalah hatiku. Aku harus bisa memecahkan misteri ini.
"Kau mau kemana, Raya?" tanya Ibu saat melihatku memakai wedges coklat dengan tinggi 7 cm yang ku beli di Singapore sekitar 5 bulan yang lalu. Perjalanan pertamaku ke luar negeri membuat pertahanan keuanganku hampir jebol. Maklum saja, itu adalah awal karir yang sangat membanggakan.
"Jalan-jalan dong, Bu!" sahutku sambil tertawa.
"Memangnya kau ingin jalan-jalan kemana? Semuanya biasa saja di kota ini!" seru Ibu sambil memandangku dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Semuanya tampak biasa-biasa saja, tetapi untukku ini luar biasa, Bu!" sahutku dengan lugas.
"Luar biasa bagaimana?" desis Ibu sembari menuang rebusan air sirih merah ke dalam gelas untuk ayah. Sudah hampir dua tahun ayah mengalami penyakit Diabetes. Orang bilang, air rebusan sirih merah dapat menekan angka kenaikan gula darahnya. Begitulah kira-kira.
"Raya sudah meninggalkan kota ini selama 3 tahun, Bu. Ini adalah kesempatan yang langka untuk mencicipi semua perubahan yang terjadi di kota ini..." jawabku dengan kiasan-kiasan yang membuat ayah menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kau bisa saja!" seru Ibu lagi sambil tertawa.
"Oya, apakah dandananku sudah cantik? Ibu bisa menilainya, kan? tanyaku pada Ibu sembari berputar-putar di depan mereka.
Ayah dan Ibu memandangku secara bergantian.
"Mengapa melihatku seperti itu, Yah?" rengekku dengan manja pada beliau.
"Ayah... Ayah merasa sangat berdosa, Nak!"
Aku mengernyitkan dahi. "Berdosa? Maksud Ayah?"
"Seharusnya di usiamu ini, kau sudah bisa menutup auratmu. Memangnya kau tidak ingin memakai hijab, Nak?" Ayah memandangku dengan sangat serius.
Aku berhenti bergaya dan kemudian meraih ponsel dari atas lemari hias milik Ibu yang berada tak jauh dari ruang tamu.
"Kau dengar apa kata Ayah, Nak?" tanya Ayah dengan pandangan yang tak berhenti padaku.
"Aku pergi dulu ya, Bu..." sahutku dan menyalim tangan kedua orang tuaku dengan wajah sedikit kesal. Lalu, aku bergegas keluar dari dalam rumah. Taksi online yang ku pesan sudah datang.
Ayah menggeleng-gelengkan kepalanya dan menoleh pada Ibu. "Bagaimana ini?" tanya beliau.
"Ah, sudahlah! Biarkan saja dia begitu! Ibu yakin dia akan berubah," jawab Ibu yang mengerti dengan maksud ayah.
"Kapan? Tunggu Ayah mati dulu?" Ayah beranjak dari kursi dan masuk ke dalam kamar.
Ibu menatap suaminya dengan sendu. Ini adalah kesalahan mereka sejak awal. Pengetahuan agama yang cukup tak memberikan mereka ruang dan kesempatan untuk membimbingku kala itu. Apalagi, profesi ayah sebagai seorang Tentara Nasional yang sering pergi berbulan-bulan membuatku sangat minim mendapat kasih sayangnya. Untungnya setelah beliau pensiun, kedekatan kami semakin erat. Ah, sudahlah! Aku sedang tidak ingin membahas masalah itu. Saat ini yang terpenting bagiku adalah mengetahui yang sebenarnya tentang Azhar, pujaan hatiku selama bertahun-tahun.
Aku menunggu Marsha di dalam restoran yang cukup terkenal di kota Medan sambil bermain ponsel. Sudah setengah jam aku duduk di sini dan menghabiskan secangkir mochacino hangat, tetapi gadis satu itu belum muncul juga. Sampai akhirnya, ku putuskan untuk menghubunginya.