DIA, AZHARKU

Nina Nola Boang M
Chapter #9

Sebuah Kebetulan yang Tak Terduga

Ku langkahkan kaki masuk ke dalam Gramedia hanya untuk sekadar mencari buku sebagai penenang jiwa yang sedang meronta. Kegalauan, kegelisahan, dan kebimbangan menjadi satu. Niat hatiku ingin bertemu dengan orang yang ku cintai selama bertahun-tahun menjadi sebuah malapetaka hati yang tak bisa diperbaiki lagi. Azhar sudah mengecewakanku. Ah, bukan! Dia tak pernah berusaha mengecewakanku. Namun, harapanku yang terlalu besar telah menghadirkan kekecewaan. Kalau sudah seperti ini, siapakah yang harus disalahkan? Aku berjalan menuju rak Fiksi/Novel sebelah kanan ujung. Sepertinya membaca cerita karangan seorang Habiburrahman adalah hal yang tepat. Aku mencari-cari judul buku karangannya yang belum sempat ku beli ketika di Jakarta. Cinta Suci Zahrana (Sebuah Novel Pembangun Jiwa), judul ini ku pilih sebagai pengobat hatiku saat ini. Pasti akan banyak kata-kata semangat yang dapat mendorong keputusasaanku saat ini.

"Hei!" seru seorang pria yang berada tak jauh dariku.

Aku mencari sumber suara itu. Sontak saja, aku tersentak saat melihat sosok Azhar berdiri di seberangku sambil tersenyum. "Azhar?" gumamku dengan tanda tanya.

Dia melambaikan tangannya padaku dengan senyum mengambang.

Aku heran, apakah dia benar-benar melambaikan tangannya padaku atau pada orang lain yang mungkin saja berada di belakangku? Tidak ingin merasa malu, aku membalikkan tubuhku ke belakang dan memastikan apakah benar lambaian tangan itu untukku.

"Kau Naraya, kan?" tanyanya dengan suaranya yang khas.

Aku menoleh ke arahnya dan kemudian tersenyum. Ternyata lambaian tangannya memang untukku. Aku mengangguk.

Azhar berjalan mendekatiku. Ku lihat dia sedang berada diantara rak yang berisi buku tentang kehamilan. Apakah itu berarti Shuha sedang mengandung anaknya? Ah, aku kembali bergidik. Jantungku seakan lemah saat mengetahui hal itu.

"Kau sendirian saja?" tanyanya sesaat setelah dia berada di dekatku.

"Erm, ya..." jawabku sembari mengatur detak jantung yang mulai tak sinkron lagi.

"Kau suka baca novel juga?" tanyanya lagi saat melihat tanganku memegang sebuah novel Habiburrahman.

Aku mengangguk. Apakah dia lupa sejak dulu aku sangat suka membaca? Bahkan, dia adalah orang pertama yang memberiku sebuah novel waktu SMU. Perempuan di Titik Nol, itu adalah novel pertama dari seorang pria yang sangat ku dambakan.

"Cinta Suci Zahrana? Kau belum membaca novel ini?" tanya Azhar sembari mengerutkan dahinya.

Lihat selengkapnya