DIA, AZHARKU

Nina Nola Boang M
Chapter #10

Apakah Aku Seperti Seorang Penguntit?

Melewati hidup selama ±4 tahun di ibukota, membuktikan padaku bahwa semuanya bisa berubah. Semuanya tampak berbeda, tak seperti dulu lagi. Seketika aku kehilangan Azhar dan menjadi orang yang penuh dengan keputusasaan, entahlah. Namun, ada hal yang paling sulit yang tak bisa ku terima sampai hari ini. Tatapan mata Azhar yang penuh tanda tanya membuatku masih menerka-nerka dengan apa yang sedang terjadi. Benarkah dia telah melupakanku? Benarkah dia bukan Azharku? Benarkah kenyataan yang ku terima ini? Aku tak bisa memahami apa yang sedang ku hadapi sekarang.

"Ayah sangat bahagia kau menghabiskan Idul Fitri tahun ini bersama kami, Nak. Tak terasa beberapa hari lagi rumah ini akan kembali sunyi seperti hari-hari sebelumnya," ucap Ayah dengan suara rendah. Matanya tampak berkaca-kaca. Apakah ayah sedang sedih karena aku akan kembali ke Jakarta dalam waktu dekat?

Aku memeluk ayah dengan erat. "Ayah, Raya pasti kembali lagi kok ke sini. Hanya pekerjaan yang membuat jarak kita jauh," jawabku dengan manja seperti anak-anak.

Ayah membelai rambutku dengan lembut. "Ayah ingin kau memikirkan permintaan Ayah..."

Aku mendongak dan menatapnya. "Apa itu?" tanyaku penasaran.

"Menikahlah segera! Ayah tidak ingin melihatmu sendirian saat Ayah dan ibu sudah tak ada lagi di dunia ini," Ayah menatapku dengan penuh harap.

Deg. Jantungku berdetak tiba-tiba. Ayah meminta hal yang belum pernah terpikirkan olehku selama ini. Mungkin memang benar aku mencintai Azhar, tetapi aku tak pernah berpikir untuk menikah dengannya.

"Kau adalah putriku satu-satunya. Harapanku terhadapmu begitu besar, Nak. Pikirkanlah!" seru Ayah lagi dan pandangannya tak lepas dariku.

Aku tersenyum membalas tatapannya dan kemudian mengangguk. Sebuah anggukan yang tak tahu kapan akan terwujud. Aku hanya bisa mengangguk untuk menyenangkan perasaan beliau karena itu adalah jawaban yang paling tepat.

Hari sudah gelap. Ku tutup tirai jendela kamar sebelum mematikan lampu. Memandangi langit sebelum tidur adalah kebiasaan yang tak bisa ku tinggalkan sejak duduk di bangku SMU, tepatnya di saat Azhar memainkan gitarnya di depanku malam itu.

"Apa kau bahagia dengan kehidupanmu sekarang?" tanyaku padanya saat aku mengetahui bahwa kedua orangtuanya memutuskan untuk berpisah.

Dia hanya tersenyum dan mengangguk perlahan-lahan.

"Kalau kau tidak bahagia, kau bisa mengatakannya pada Tante Sundari agar mereka membatalkan perpisahan itu. Ya, kan?" usulku sambil tetap memandangnya.

Azhar meletakkan gitarnya di samping kemudian menggeser tubuhnya sedikit menghadapku. "Aku tak punya hak untuk mengurusi urusan mereka, Raya. Kau tahu aku adalah orang yang paling tidak suka mencampuri urusan orang lain, kan?"

Aku menghela nafas. "Tetapi mereka orangtuamu, bukan orang lain. Apa kau tidak merasa bahwa keputusan mereka itu salah?" tanyaku.

Azhar memegang kedua lenganku dengan sangat kuat. "Apapun keputusan mereka, aku hanya bisa menerima. Sebagai anak, aku tidak ingin kedua orang tuaku merasa bersalah terhadapku. Kau pasti akan mengerti nanti, kenapa aku mendukung keputusan itu."

Aku terdiam dan menundukkan kepala saat mendengar jawabannya.

"Lihat ke atas, Ray!" serunya tiba-tiba.

Aku mengikuti arahannya.

"Langit selalu tampak biru walaupun di malam hari. Itu berarti bahwa tidak ada masalah dengan sebuah perbedaan. Apakah aku harus bersama kedua orangtuaku atau memilih satu diantara mereka? Artinya hidupku akan tetap sama saja... Tetap bahagia..." Azhar tertawa kecil sambil menatap langit.

Aku mendengarkan semua ucapannya dengan harapan semoga saja masih ada keajaiban yang terjadi nanti.

"Menatap langit di malam hari seperti ini membuatku tenang. Apakah kau juga, Ray?" Azhar menoleh padaku.

Aku termangu. "Y-ya... Sedikit..." jawabku terbata.

Azhar tersenyum lebar. Dia merangkulku dan mendekapku dalam rangkulannya.

Lagi-lagi kenangan bersama Azhar bermain dalam benakku. Tak akan habis memang setiap mengulik kisahku bersamanya karena setiap menitku sangat berarti kala itu.

"Assalammualaikum..." sapaku dari luar rumah. Pintu depan terbuka, tetapi tak ada seorangpun yang menyahut dari dalam.

Lihat selengkapnya