Aku memeluk ibu dengan sangat erat. Pelukan ini adalah yang paling erat ku rasakan karena kerinduan yang masih memuncah harus diakhiri begitu saja. Tak pulang selama 3 tahun berturut-turut dan sekarang harus kembali lagi ke Jakarta setelah menghabiskan masa cuti selama 2 minggu bersama mereka, tetap saja membuat ibu menangis terus menerus. Beliau ingin aku menetap di Medan, di rumah ini bersama mereka. Namun, aku lebih memilih untuk menjadi perantau di kota orang. Ambisius memang, sama halnya dengan mencintai Azhar. Ya, lagi-lagi Azhar. Mengapa Azhar tak bisa hilang dari benakku? Dia sudah beristri, Naraya! Sadarlah!
"Jangan lupakan salat ya, Nak!" seru Ibu dengan suara lantang.
Aku mengangguk sambil tersenyum. Perintahnya yang satu ini memang sangat jarang sekali ku laksanakan. Waktuku banyak terbuang habis hanya untuk bekerja tanpa memperdulikan ketenangan hati dan fitrahku sebagai seorang muslimah. Kadang-kadang, sebuah masalah besar yang kembali mendekatkanku dengan Sang Khalik. Padahal, itu tidak benar. Dalam situasi apapun, seharusnya aku tetap mengingat Allah. Tetap menyembahnya dalam keadaan apapun.
"Apalagi sampai sekarang kau belum juga menutup auratmu!" Kali ini kalimat itu keluar dari mulut ibu. Sepertinya ibu juga sudah mulai resah dengan penampilanku yang sedikit terbuka seperti sekarang.
"Ayah akan sangat berdosa!" Ayah menambahi kalimat ibu dan menatapku dengan tajam.
Aku membuang pandanganku ke arah lain dan mencoba untuk pura-pura tidak mengerti dengan apa yang baru saja mereka ucapkan.
"Kalau kau tidak ingin merubah penampilanmu ini, tidak apa-apa. Tugas kami sebagai orang tua memang harus mengingatkanmu, Nak!" Ayah mulai serius dengan ucapannya.
Aku menghampiri ayah dan memeluknya dengan kuat. "Raya akan mencobanya, Ayah..." sahutku kemudian.
Senyum lebar tersungging di wajah beliau.
"Cukup dengan kalimat itu saja sudah membuat kami bahagia, Nak..." sahut Ibu yang berada di dekatku.
Aku tersenyum dan memeluk mereka berdua. Perpisahan ini sedikit haru. Aku juga dapat merasakannya. Air mataku menetes tiba-tiba. Aku akan kembali ke Jakarta dan tak tahu kapan lagi akan kembali ke sini. Semoga saja secepatnya. Belum lagi, pesan kedua orang tuaku yang membuat hati ini bergetar tanpa bisa berjanji melaksanakan keinginan mereka.
Tinn... Suara klakson mobil terdengar nyaring dari balik pintu pagar. Aku, ayah, dan ibu tersentak dan mendongak menatap ke luar.
"Siapa itu, Bu?" tanyaku pada ibu.
Ibu memperhatikan mobil itu dengan seksama. "Ibu juga tidak tahu, tetapi sepertinya itu...."
"Naraya sayang, sudah mau berangkat ya?" Tante Sundari keluar dari dalam mobil dan melangkah masuk ke halaman rumahku.
Aku tersenyum melihatnya. Perasaan heran menyelimutiku saat melihat ibu Azhar mendekati kami. "Ya, Tante..." jawabku dengan cepat.
"Kalau begitu, ayo sekalian! Kebetulan tujuan Tante searah dengan bandara..." Tante Sundari memegang pundakku dengan lembut.
Aku mengernyitkan dahiku. Ku pandang ibu dan ayah yang tersenyum menyambut kedatangan Nyonya Brigham.
Ibu mendorong punggungku dengan perlahan. "Sudah, ikut saja!" bisik beliau dengan sangat pelan.
Aku menoleh kembali ke arah Nyonya Brigham. "Tidak usah, Tante! Raya akan memesan taksi..." jawabku.
"Aduh, kamu ini!" Tante Sundari berjalan ke samping ibu.
Aku menjadi sangat bingung.
"Tante sudah bilang sama Azhar, supaya sekalian antar kamu. Kamu bisa numpang sampai bandara, Sayang..." ujar Tante Sundari.
Aku menoleh ke arah mobil itu. Ku lihat Azhar berada di balik kemudinya sambil memainkan ponsel.
"Iya kan, Sarah?" tanya Tante Sundari kemudian pada ibu.
Ibu mengangguk dan tersenyum.
"Erm... Tante...."
"Tante turun di pasar induk saja nanti karena mau belanja untuk keperluan dapur. Shuha sudah tidak bisa diajak keluar rumah lagi. Ngidamnya parah sekali..." bujuk Tante Sundari padaku.
Aku menghela nafas.
"Ayo... Ayo... Nanti kamu ketinggalan pesawat loh!" Tante Sundari menarik tanganku menuju mobilnya.
Aku menoleh ke belakang dan meminta izin pada ibu dan ayah. Mereka tersenyum dan melambaikan tangannya padaku. Senyum itu mengembang dengan sangat lama, membuatku semakin merindukan ayah dan ibu.