DIA, AZHARKU

Nina Nola Boang M
Chapter #12

Akankah Aku Mengetahui Kebenarannya?

Setelah membalikkan tubuhku ke belakang beberapa saat untuk melihat Azhar, akhirnya aku semakin yakin bahwa sedikit banyaknya Azhar masih mengingatku. Entahlah, tetapi kejadian tadi membuatku memahami semuanya. Dia berusaha menguak tentangku dan itu membuatku yakin bahwa Azhar pasti masih mengingatku.

"Jangan percaya pada orang yang belum kau kenal! Itu akan menjadi musibah untukmu nanti..." sarannya sebelum aku masuk ke ruang tunggu maskapai.

"Maksudmu?" tanyaku dengan bingung.

"Kadang-kadang kita hidup dalam keterasingan, padahal masih banyak orang yang mengenal kita siapa. Kadang-kadang pula, keterasingan itu membawa kebaikan pada diri kita. Setidaknya kita menjadi mengerti akan artinya ketergantungan pada orang lain. Sampai saat ini aku masih belum dapat memahami semua masa laluku. Mengapa aku bisa melupakannya dan hanya mengingat satu orang saja yaitu istriku Shuha? Sementara, kau juga mengenalku dan berbuat baik padaku. Inilah yang ku maksudkan tadi..." Azhar tertawa. Giginya yang mungil dan putih bersih itu berderet rapi sehingga menunjukkan ketampanan yang luar biasa.

Aku tertawa kecil. Walaupun dia melupakan masa lalunya, tetapi dia tak melupakan cara untuk memberiku sepatah ataupun dua patah kata sebelum kami berpisah. Masih sama persis seperti waktu itu, waktu dia meninggalkanku ke Inggris.

"Baiklah, aku juga ada keperluan lagi. Ku antar sampai di sini tidak masalah, kan?" tanya Azhar sembari tersenyum padaku.

Aku mengangguk. "Tidak masalah kok! Seharusnya aku banyak mengucapkan terima kasih padamu karena sudah mengantarkanku sampai ke sini..." jawabku.

"Sama-sama. Ini juga keinginan Mama."

Aku tersentak. Keinginan Tante Sundari? Mengapa?

"Hum... Kalau begitu, aku pergi dulu ya! Hati-hati dan sampaikan salamku pada temanmu yang menelepon tadi," Azhar tersenyum dengan sangat manis.

Aku tertawa. "Akmal namanya."

"Ya, sampaikan pada Akmal!" seru Azhar sambil tersenyum.

"Oke!" balasku dengan sebuah senyuman.

Aku membuka lembar demi lembar Novel Habibburahman yang sebenarnya belum sempat ku baca sejak dibeli untuk menghilangkan kebosanan selama di dalam pesawat. Zahrana, seorang gadis cantik, shalehah, cerdas, taat beragama, dan intelektual yang sangat mementingkan pendidikannya. Sampai-sampai dia menunda untuk menikah di usianya yang tak lagi muda. Ku pikir, tokoh Zahrana ini sangatlah egois dan tidak memikirkan kebahagiaan kedua orangtuanya. Dia lebih memilih untuk tidak menikah sesegera mungkin dengan alasan akan mengganggu konsentrasi pendidikannya. Apa? Apakah ini memang pemikiran seorang wanita tentang pernikahan? Bukankah wanita akan lebih peka dan sedikit sensitif jika disinggung tentang pernikahan? Ah, mengapa aku harus menyanggah urusan orang lain? Aku sendiri pun masih tidak bisa menimbang apa yang terbaik untuk kehidupan masa depanku, apalagi setelah mengetahui Azhar yang sudah menikah membuatku semakin putus asa untuk mencari cinta.

Ku sandang sling bag berwarna jingga di sebelah kanan dan segera memasang kacamata hitam favoritku. Aku berjalan keluar dari pintu kedatangan domestik dengan menyeret koper mini kesayanganku.

"Naraya!"

Aku berhenti sembari menghembuskan nafas. Itu pasti Akmal, gumamku.

"Kau tidak melihatku melambaikan tangan sejak tadi?" tanyanya sembari berlari menghampiriku.

Aku tersenyum. "Maaf, aku tidak melihatmu. Mungkin ada yang salah dengan kacamata ini."

Akmal tertawa dan kemudian menarik koper yang ku pegang dengan cepat.

"Hei!" seruku sesaat setelah koper itu terlepas dan Akmal menyeretnya ke area parkir.

Lihat selengkapnya