Laporan akhir bulan ini sudah sampai di meja kerjaku. Sangat tebal. Biasanya aku selalu punya energi untuk menyelesaikannya. Namun, kali ini tak ada sedikitpun semangat untuk memeriksa apakah semuanya sudah lengkap dan benar. Perasaanku tak karuan. Badanku meriang, kepalaku pusing, dan rasanya ingin berbaring saja. Aku benar-benar tidak punya kekuatan lagi.
"Kau kenapa, Ray?" Suara Tamara membuatku tersentak dan memandang ke arah pintu.
"A-aku... Tidak apa-apa," jawabku sembari memegang ujung dahi dan memijatnya secara perlahan-lahan.
"Kau sakit?" tanya Tamara dan meletakkan telapak tangannya di permukaan kulit dahiku. Dia mulai khawatir.
Aku menggerutu. "Sudahlah, aku baik-baik saja... Ada apa kau kemari?" jawabku dan menepis tangannya dengan pelan.
"Sepertinya kau memang sakit," ucap Tamara dan memandangku dengan penuh rasa penasaran.
"Apa yang sedang kau cari di sini?" Aku mencoba mengalihkan rasa penasarannya dan memindahkan map berisi laporan bulanan itu ke bawah meja.
"Kau ini aneh sekali! Seharusnya kau bersyukur masih memiliki teman yang protect seperti aku terhadapmu!" sanggah Tamara dengan cepat.
Aku memandangnya. "Overprotect not just protect. Understand?" sahutku dengan lantang.
"Oke... Oke... Baiklah, memang aku sangat overprotect terhadapmu. Aku melakukannya karena aku sangat mengkhawatirkanmu, Ray..." ucap Tamara dengan lirih.
Aku menghela nafas panjang. "Sekarang kau katakan saja, ada perlu apa kemari?"
"Ada seorang pegawai baru di bagian keuangan," jawab Tamara. Dia tersenyum centil padaku.
Aku mengernyitkan dahi. "Oya?"
Tamara mengangguk sembari tersenyum. "Hum..."
"Lalu?"
"Wajahnya tampan sekali, Ray. Aku... Aku tidak tahan untuk tidak menatapnya sedetikpun..." ungkap Tamara dengan ekspresi genit.
Aku memukul wajahnya pelan dan tidak menyahuti kalimat itu.
"Kau juga tidak akan tahan kalau sudah melihat pria itu. Kurasa Akmal sudah mulai ada saingan nih..." Tamara tertawa kecil sembari menutup mulutnya dengan tangan.
"Hah? Akmal sudah punya saingan? Memangnya selama ini dia primadona?" ujarku ketus.
Tamara mengangguk. "Iya. Selama ini aku memang sangat mengagungkan Akmal tetapi sekarang tidak akan lagi..." jawabnya dengan nada kesal.
Aku tertawa. "Memangnya kenapa?"
"Kau bayangkan saja bagaimana reaksinya setiap aku mendekat? Selalu cuek dan tidak pernah perduli pada perasaanku. Jadi, bukan salahku kalau dia mulai tersingkirkan!" Tamara menatapku dengan memicingkan matanya sebelah kanan.
"Ya... Ya... Ya... Urusan cinta memang sangat sulit. Iya, kan?" keluhku tanpa sadar.
"K-kau... Kau juga mengalami hal yang sama denganku?" Tamara mendekatkan wajahnya kepadaku.
Seraya mengernyitkan dahi, ku dorong wajah mulus Tamara karena polesan skin care yang begitu mahal dari hadapanku. "Kau tidak perlu tahu!"