DIA, AZHARKU

Nina Nola Boang M
Chapter #14

DIA???

Aku memasang anting-anting permata kesukaanku dengan sangat hati-hati. Dengan mengenakan gaun lengan pendek yang memiliki swarovski di bagian lehernya, aku merasa sudah cukup cantik malam ini. Tidak ada salahnya berdandan semewah dan secantik putri yang ada di dalam dongeng tidurku saat kecil dulu, apalagi ini adalah acara penyambutan untuk seorang Kepala Keuangan Perusahaan yang baru. Aku tersenyum bangga melihat penampilanku di cermin. Sungguh tidak ada yang kurang dari seorang Naraya Prameswari saat ini, kecuali cinta. Cintaku telah hilang setelah Azhar tak mengingat siapa diriku sejak pertemuan itu. Ah, sudahlah! Aku tidak boleh berlarut-larut dalam kepiluan hati ini. Azharpun pasti sudah tak mengingatku lagi.

"Kau sudah siap, Ray?" teriak Tamara dari luar kamar.

"Sebentar lagi..." jawabku dan mengulangi polesan di bibir dengan warna nude yang terlihat melekat indah di wajahku.

"Kau lama sekali! Acaranya sebentar lagi mulai. Kita tidak boleh terlambat, Bu Asisten Manager!!!" pekik Tamara lagi.

Aku mendengus pelan. Tamara sudah membuatku kehilangan konsentrasi saat memoles bibirku yang merah ini. "Kau bisa sabar tidak? Kalau kau tidak bisa, pergi saja duluan!" balasku dengan spontan.

Beberapa saat kemudian, aku tak lagi mendengar jeritan Tamara, si karyawan yang genit itu. Ku ambil pouch berwarna silver dengan list hitam di bagian tengahnya. Ku sambar coat berbulu di bagian lehernya yang ku beli di Seoul tahun lalu. Ini akan menjadi style yang paling berkelas yang ku miliki. Sepertinya drama Korea yang sering ku tonton memberi efek yang patut diacungi jempol. Berjalan dengan kepala terangkat ke atas dan menganggap semuanya baik-baik saja adalah sikap yang elegan.

"Waw, perfecto!" seru Tamara saat melihatku keluar dari dalam kamar.

Aku tersenyum bangga. "Of course! Aku tidak ingin terlihat seperti itik buruk rupa. You know what I mean. Aku seorang Asisten Manager dan harus bersikap seperti seorang Asisten Manager, kan?" ucapku pada Tamara.

Dia terpaku dan diam. Senyumnya mengambang.

"Kau sudah siap?" tanyaku padanya yang masih berdiri tanpa bergerak sedikitpun.

"Apa aku bisa bersolek lebih cantik lagi darimu, Ray?" celetuknya dengan tiba-tiba.

"What?????" tanyaku heran.

"Aku sudah berharap untuk bisa mendekati Kepala Keuangan itu, tetapi sepertinya dia tidak akan memandangku jika penampilanmu begini. Dia pasti akan melesetkan pandangannya ke arahmu!" Tamara sedikit merengek manja padaku.

Aku tertawa. "Kau ini! Aku sama sekali tidak tertarik dengan Kepala Keuangan itu! Kau tenang saja!" seruku.

"Oya? Kau serius?"

"Lagipula kau juga belum melihatnya, tetapi sudah berharap ingin mendekatinya. Aneh!" seruku dan kemudian meraih kunci mobil yang berada di atas meja di samping sofa.

Tamara mengikutiku dengan cepat. "Kalau dia tidak tampan, tidak akan mungkin menjadi perbincangan semua orang di perusahaan!" serunya

"Ya... Ya... Ya... Kita lihat saja nanti! Apa benar karyawan baru itu tampan?" sahutku dan terus berjalan masuk ke dalam lift.

Berkali-kali Tamara membuka cermin kecil dan memoles bibirnya yang tipis dengan lip matte berwarna nude. Padahal, dandanannya malam ini sudah sangat cantik.

"Kau tidak capek terus-terusan memandang cermin itu, Ra?" tanyaku sambil tetap mengemudi.

Tamara hanya menggeleng. "Aku tidak mau terlihat seperti itik buruk rupa nanti!" sahutnya.

Aku menganga. "Itik buruk rupa?"

Tamara mengangguk. "Berada di sampingmu membuatku tidak percaya diri, Raya!"

Aku mendelik sembari menggelengkan kepala.

"Aku tidak akan bosan memperbaiki dandananku sampai benar-benar terlihat menarik," ujar Tamara.

"Bisa jadi cermin itu yang terlalu bosan untuk kau pandangi!" cibirku membalas ucapannya tadi.

Tamara melirikku dan kemudian memukul lenganku.

Lihat selengkapnya