DIA, AZHARKU

Nina Nola Boang M
Chapter #15

Tak Disangka!

"Pak Azhar!" seru Direktur perusahaanku lagi dengan lugas. Beliau memberi kode pada Azhar agar datang ke meja kami.

Aku kembali bergidik ngeri dan segera mengatur nafasku saat sosok gagah itu tersenyum. Dia benar-benar Azhar. Azhar yang sangat ku kenal, Muhammad Azhar Brigham. Aku bisa melihat wajah tampannya secara langsung.

"Ya, Pak?" Suara Azhar menggema di telingaku.

"Aku ingin meminta waktu anda sebentar..." ucap Pak Direktur.

"Oh, baiklah..." Azhar berbalik arah dan berjalan ke arah kami.

Aku bisa mendengar suara sepatunya semakin nyaring di telinga. Oh Tuhan, benarkah aku akan bertemu dengan Azhar di sini? Aku... Aku... Aku tidak ingin bertemu dengannya. Tolong aku! Aku tidak ingin bertemu dengan Azhar. Aku benar-benar takut.

"Erm, Naraya..." Kali ini suara Pak Direktur mengarah padaku.

Aku menoleh pada beliau dengan perlahan-lahan. "I-iya, Pak..." jawabku.

Pak Atma melirik Azhar.

Aku mengangguk sambil menundukkan wajah agar Azhar tidak melihatnya.

"Dia ini adalah Asisten Manager perusahaan kita. Namanya Naraya Prameswari," Pak Atma Wijaya memperkenalkanku pada Azhar.

Aku mengangkat kepalaku sedikit dan mencoba untuk melihat sosok tampan yang selalu ku rindukan itu.

"Hai, Bu Naraya!" sapa Azhar dengan lembut sembari menyodorkan tangannya padaku.

Aku mengernyitkan dahi. Azhar bersikap seolah-olah tidak mengenaliku. Apakah dia memang tidak mengingatku lagi? Lama ku pandangi wajah itu, sampai akhirnya aku menyambut tangannya dan menggenggamnya dengan erat. Dia masih tersenyum tanpa menunjukkan sikap yang bersahabat. Apa yang sebenarnya terjadi pada Azhar?

"Bapak...."

"Azhar." Suara lembut itu menggema kembali di telingaku.

"Beliau ini baru saja menyelesaikan pendidikan magisternya di Inggris, Ray." Pak Direktur tersenyum padaku.

Aku mengangguk sembari tersenyum. "Oya? Hebat sekali!" pujiku dan menarik tanganku dengan cepat dari genggaman Azhar.

Azhar tersenyum.

"Oya, beliau juga berasal dari kota yang sama denganmu, kota Medan. Bukan begitu, Pak Azhar?" ujar Pak Atma lagi.

"Benarkah? Syukurlah, saya tidak hanya memiliki teman sejawat, tetapi juga teman satu kampung..." Aku berusaha melebarkan senyumku di hadapan kedua pria ini. Padahal hatiku sedang remuk redam. Mengapa Tuhan mempertemukan kami kembali di sini?

"Ya. Senang bertemu dengan anda, Bu Naraya," ucap Azhar sambil tersenyum.

"Saya pikir kita semua akan menjadi sebuah tim yang kuat dan solid untuk membangun perusahaan ini," ucap Pak Direktur dengan senyum mengembang di wajahnya.

Lihat selengkapnya