Sudah ku duga, aku akan bertemu dengannya setiap hari. Apakah ini memang rencana Tuhan untuk membuatku kembali menutup hati untuk pria lain? Apakah aku memang harus kembali mencintai Azhar saja? Namun, mengapa hal itu tidak terjadi padanya? Mengapa dia harus menikah dan melupakanku? Mengapa harus ada Shuha diantara kami? Mengapa semua ini terjadi di luar dugaan? Ah.
"Selamat pagi, Bu Naraya..." Suara Akmal menggaung dalam ruanganku.
Aku hanya memandangnya tanpa berujar sepatah katapun.
"Hei!" seru Akmal dengan wajah kesal.
Aku masih diam. Pikiranku sedang melayang sekarang.
"Kau tidak bisa melihatku berdiri di sini, Ray?" tanyanya dan kemudian mendekatiku.
"Aku melihatmu," jawabku singkat.
"Begitu ya? Lalu, mengapa kau tidak menjawab ucapan selamat pagiku?" Akmal menatapku dengan tajam.
"Memangnya harus?" tanyaku tanpa menoleh sedikitpun padanya.
Akmal semakin dekat. Dia mencondongkan tubuhnya ke arahku. "Kau ada masalah? Katakan saja!"
Aku menggeleng.
"Mengapa ketus begitu?"
"Aku ketus? Kau sudah mengenalku berapa lama, Mal? Kau tidak hafal juga dengan gaya bicaraku, hah?" tanyaku pada Akmal sembari melotot.
Akmal mengalihkan pandangannya. "Kau ada masalah apa?"
"Tidak ada! Aku baik-baik saja..." jawabku sembari tersenyum.
"Apa Kepala Keuangan itu yang membuatmu menjadi seperti ini?" tanya Akmal sembari memperhatikan raut wajahku.
"Tidak! Kau ini kenapa sih?"
"Kau... Terasa aneh!" sahut Akmal dan kemudian berjalan keluar dari pintu.
Aku menghela nafas dan menyandarkan tubuhku ke belakang. Aku aneh? Apa yang aneh dariku? Apakah ada sesuatu yang berubah? Rasanya tidak. Aku masih saja seperti Naraya yang hanya mengenal satu cinta yaitu Azhar.
Tamara merapikan rambut dan blazernya sembari menatap ke cermin kecil yang selalu dibawanya kemanapun. Senyumnya terus mengembang setiap dia selesai merapikan rambut curlynya itu.
"Kita hanya akan makan siang, Ra..." ujarku padanya sembari mengetukkan jemariku di atas meja.
"Ya, aku tahu..." jawab Tamara tanpa memandangku.
"Lalu, kenapa kau terus menerus memandang cermin?"
"Aku... aku ingin tetap terlihat cantik," ucapnya dengan centil.
Aku menghela nafas panjang dan kemudian menyandarkan tubuhku ke belakang. Ada apa dengan gadis genit yang satu ini? Ku putuskan untuk sibuk dengan ponsel pintarku tanpa mengomentari sikap Tamara. Ku lihat dua orang pramusaji sedang berjalan ke arah kami dengan membawa pesanan yang sudah hampir setengah ku pesan.
"Oke, terima kasih..." jawabku sembari menatap kedua pria itu.
"Sama-sama, Bu..."