DIA, AZHARKU

Nina Nola Boang M
Chapter #17

Apakah Harapan itu Masih Ada?

Aku menghapus seluruh wajahku dengan telapak tangan sembari mencari dimana sapu tangan yang selalu ku bawa di dalam saku. Aku mulai gusar saat langkah Azhar semakin mendekat. Dimana sapu tanganku? Mengapa di saat seperti ini sapu tangan itu malah menghilang? Aku tidak mungkin berhadapan dengan Azhar dengan wajah sembab seperti ini. Dia pasti akan menanyaiku nanti dan ini adalah hal yang paling ku takutkan. Aduh, bagaimana ini?

"Kau tidak makan siang?" tanyanya sambil memandangku.

"Erm... A-aku...."

"Diet?"

"Apa? Diet? Tidak. Aku tidak diet!" bantahku dan kembali menundukkan kepala.

"Apalagi kalau bukan diet namanya? Di saat semua orang sedang makan siang, kau malah duduk di sini dan..." Azhar tertawa kecil sembari menoleh ke arahku.

Aku masih tak berani menunjukkan wajahku yang semakin glowing karena air mata yang tak kunjung reda. "Aku sedang tidak lapar."

Azhar masih memandangku.

"Aku hanya...."

"What? Kau tidak lapar? Bisa ya begitu?" tanyanya dan segera mengalihkan pandangannya dariku saat aku mengangkat kepalaku.

Aku mengangguk. "Mungkin sarapan pagiku terlalu berat tadi. Jadi, aku masih kenyang sekarang..." ujarku membuat alasan yang semoga saja dapat diterima olehnya.

"Oh, begitu?" sahut Azhar sembari memandang lurus ke depan.

Setelah merasa mulai tenang, perlahan-lahan ku angkat kepalaku lagi. Akupun ikut memandang lurus ke depan. "Kau sendiri mengapa ada di sini?" tanyaku pada Azhar yang masih berdiri tegak di sampingku.

"Aku baru saja selesai makan siang..." jawabnya. Ada senyum yang tersungging di wajah tampan itu.

"Makan siang? Di sini?" tanyaku dengan sangat heran.

Azhar mengangguk. "Itu!" serunya sembari menunjuk sebuah wadah makanan dan sebotol air putih di atas meja yang berada di sudut.

"Kau bawa bekal?" tanyaku dengan sangat terkejut. Saking kagetnya, aku berdiri dan memandang ke arah meja.

Azhar mengangguk lagi. "Shuha memintaku untuk selalu menjaga kesehatan dengan tidak membeli makanan di luar rumah. Boleh saja memang, tetapi untuk urusan makan pagi, siang, dan malam, dia tidak bisa diajak kompromi," jawab Azhar tanpa ada sedikitpun rasa khawatir terhadapku, maksudnya terhadap perasaanku ini.

Aku menelan ludah. Seperti itukah kasih sayang Shuha terhadap Azharku? Aku semakin cemburu dengan kemesraan mereka berdua. Akankah hatiku kuat menerima ini semua?

"Mau tidak mau aku harus menurutinya, kan?" sambung Azhar sembari tersenyum kecil.

"Shuha memang seorang istri yang baik..." desisku pelan.

"Kau juga bisa seperti dia," ucap Azhar sontak membuatku kaget.

"Seperti Shuha?"

"Ya. Semua wanita memang harus menjadi istri yang baik, kan?"

Aku mengangguk pelan. "Kau benar..." jawabku.

Azhar diam. Aku pun diam. Tak ada pembahasan yang terjadi setelah kalimatku berakhir, sampai akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya pada Azhar. "Ada yang ingin ku tanyakan padamu, Har..." ujarku. Aku tahu ini bukan hal yang bisa ku lakukan, tetapi perdebatan terjadi di dalam hatiku saat ini.

"Ya, ada apa?"

"Apakah kau benar Muhammad Azhar Brigham?"

Azhar mengerutkan dahinya. "Kau tahu nama panjangku?" tanyanya. Kali ini tubuhnya berbelok ke arahku.

Lihat selengkapnya