DIA, AZHARKU

Nina Nola Boang M
Chapter #18

Seharusnya Kau Tak Berharap Lagi, Raya!

Aku melangkah perlahan-lahan ke kamar mandi karena kepalaku sakit sekali. Aku tidak tahu apa yang terjadi sampai rasanya kepala ini kaku dan tegang. Apakah aku salah makan semalam sore bersama Akmal? Atau salah tidur? Atau terlalu lelah bekerja? Atau terlalu sulit melupakan Azhar? Atau...? Brakk... Tubuhku menghantam pinggiran bak mandi dan terbentur dengan sangat keras. Gelap. Gelap sekali. Hanya terdengar bunyi nging di telingaku dan setelah itu aku tidak tahu apa yang sudah terjadi?

"Kau sudah sadar, Ray?" Suara Akmal adalah yang pertama sekali ku dengar saat mata ini terbuka.

Aku belum bisa menjawab. Hanya gerakan kepala yang ku anggukkan dengan perlahan-lahan. Pandanganku juga masih berkunang-kunang.

"Sudah... Sudah... Kau tidak boleh terlalu banyak bergerak!" serunya lagi sambil menepuk pundakku dengan lembut.

Aku menelan ludah. Setelah mata ini terbuka dengan lebar, aku melihat wajah Akmal di hadapanku. "Aku... Ada apa ini? Kenapa denganku, Mal?" tanyaku.

"Kau jatuh di kamar mandi."

"Jatuh?"

"Tubuhmu sudah terlalu lemah untuk melakukan banyak kegiatan. Dokter menyarankan agar kau mengambil cuti beberapa hari," Akmal mencoba meyakinkanku bahwa keadaanku sedang tidak baik-baik saja.

"Cuti? Bagaimana dengan pekerjaanku di kantor? Pak Atma bisa...."

"Aku sudah meminta izin pada Pak Atma agar memberimu cuti dan beliau mengizinkan..." jawab Akmal sembari tersenyum.

"Tetapi...."

"Tidak ada bantahan lagi, Raya! Kau harus menurut padaku, mengerti?" seru Akmal dengan wajah yang sangat serius.

Aku diam. Tak banyak yang bisa ku lakukan dalam keadaan sakit seperti ini. Namun, pikiranku terus menerus tertuju pada pekerjaan yang harus segera diselesaikan sebelum waktunya tiba.

"Aku akan kembali ke kantor sebentar lagi. Semua keperluanmu sudah ku letakkan di dalam lemari. Jika kau perlu bantuan, kau bisa menekan bel ini untuk memanggil perawat. Kau paham?" Akmal menunjuk sebuah bel sebelah kanan dan menunjuk beberapa perlengkapan seperti baju, ponsel, dan laptop yang sudah tersusun rapi di dalam lemari.

Aku tersenyum dan mengangguk. "Terima kasih, Mal..."

"Aku hanya menginginkan cintamu, Ray! Tidak perlu berkali-kali mengatakan terima kasih itu padaku!" Akmal tertawa.

Aku mengerucutkan mulutku ke arahnya. "Jangan mengambil kesempatan di atas derita orang lain!" bentakku padanya.

Akmal masih saja tertawa. "Oya, Tamara juga akan datang ke sini sebentar lagi..." sahutnya sebelum pergi meninggalkan ruangan.

"Hah? Aku ingin tenang tanpa Tamara!" elakku sambil menghela.

"Hei, dia adalah sahabatmu! Berikan dia kesempatan untuk menebus kesalahannya di kantin waktu itu!" Akmal tertawa lagi.

"Ya, baiklah! Suruh dia membawa pizza untukku! Kalau tidak, aku tidak akan mengizinkannya masuk ke dalam ruangan ini!" seruku pada Akmal dan dibalas dengan acungan jempol dari Akmal.

Pintu tertutup. Aku kembali sunyi. Ku tatap langit yang tampak dari balik tirai jendela yang berada di sisi kiriku. Apa yang terjadi sebenarnya sampai aku harus berada di sini? Aku sama sekali tak mengingatnya. Namun, yang tetap ku ingat hanyalah Azhar. Aku tidak tahu mengapa aku belum bisa melupakan pria itu.

"Kau sudah memaafkanku?" tanya Tamara sembari menyodorkan sekotak Pizza padaku.

Aku menahan senyum dan membuang wajahku darinya.

"Ray, maafkan aku! Aku sudah lancang waktu itu..." mohon Tamara dengan wajah memelas.

Lihat selengkapnya