Aku bersandar di kasur yang sudah diatur ketinggiannya oleh Akmal sebelum dia pergi ke kantor tadi. Sudah seminggu aku berada di sini. Berbaring dan terus berbaring tanpa bisa melakukan aktifitas apapun. Bosan sekali rasanya! Tak ada yang bisa ku lakukan selain bersandar di tempat tidur, menonton TV, makan, main ponsel, dan keluar masuk kamar mandi. Sebuah rutinitas yang sangat berbeda dari biasanya. Namun, itu semua harus ku jalani daripada kepalaku semakin terasa kram dan sakit. Ku ambil ponsel yang berada di atas meja di samping tempat tidur dan mencari nama Marsha. Sudah lama juga aku tak mendengar kabar gadis itu sejak kembali dari Medan 5 bulan yang lalu. Apakah pernikahannya sudah terjadi?
"Halo, Ray!" sapanya dari seberang.
"Halo, Sha?"
"Iya. Ini aku! Ada apa ?" jawabnya lagi dari seberang.
Aku tersenyum. "Kau sedang apa?" tanyaku.
"Kau sudah lupa?"
"Lupa? Apanya?" tanyaku dengan bingung.
"3 hari lagi pernikahanku, Sayang."
Aku menepuk dahiku dengan pelan. "Aku baru ingat..."
"Oh, Tuhan! Jadi, kau tidak datang ke acaraku nanti?"
Aku mendengus dengan pelan. "Sepertinya begitu, Sha..." jawabku dengan sangat hati-hati. Aku yakin Marsha pasti sangat kecewa mendengar jawabanku.
"Kenapa? Kau sudah berjanji padaku, Naraya!"
"A-aku... Aku... sedang banyak pekerjaan di sini."
"Naraya, aku tidak akan memaafkanmu!" serunya merengek padaku.
"Sebenarnya aku sedang dirawat di Rumah Sakit sekarang."
"Rumah Sakit? Kau kenapa, Ray?" teriaknya. Kali ini suara Marsha menggema hebat di telingaku.
"Aku sudah bilang kalau banyak pekerjaan yang membuatku menjadi begini, kan?" tegasku pada Marsha.
"Kau ini! Memang dasar pekerja keras! Kau kan sudah punya jabatan, Ray... Kenapa harus susah-susah lagi?"
"Demi keprofesionalan, Sayangku..."
"Kesehatan jadi taruhannya?" delik Marsha.
"Hum...."
"Sudahlah! Selain pekerja keras, kau juga seorang gadis yang sangat keras kepala!" serunya mencibirku.
"Sha, kadang-kadang aku juga bisa melunak kok!" jawabku sambil tertawa.
"Oya, aku dengar Azhar juga berada di Jakarta sekarang. Benarkah?" tanya Marsha padaku. Sepertinya dia juga sedang menunggu jawaban.
"Kau tahu dari mana?"
"Tante Sundari..." jawabnya.
"Hum, kau pasti akan lebih terkejut setelah mendengar ini..." ujarku membuatnya semakin penasaran.