Shuha memberiku segelas air putih hangat setelah kami berdua menikmati Pizza yang lezat siang itu. Dia benar-benar wanita yang baik dan penuh perhatian. Entahlah, aku juga tidak mengerti dengan apa yang terjadi padanya. Apakah mungkin Tante Sundari sudah memberitahu semuanya pada Shuha siapa aku dan apa hubunganku dengan Azhar? Dia tampak lebih baik dari sebelumnya.
"Kau sudah lama tinggal di sini, Ray?" tanyanya sembari membersihkan noda saos yang menempel di atas meja.
"Ku pikir sudah cukup lama juga..."
"Oya? Sudah berapa tahun?" tanyanya lagi.
"Kurang lebih 5 tahun."
"Wah, kau sangat hebat karena bisa hidup di perantauan tanpa sanak saudara selama itu!" Shuha tersenyum.
Aku mengangguk. "Keinginanku cukup kuat, Shu. Aku ingin menjadi anak mandiri yang bisa bermanfaat untuk keluargaku."
Shuha mengangguk-angguk.
"Kalau kau sendiri bagaimana?" tanyaku balik padanya. Jujur aku sangat penasaran dengan kehidupan wanita yang sudah merebut hati pujaanku ini.
"Aku?"
Aku menggangguk.
"Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia kecuali Azhar..." jawabnya lirih.
Senyumku hilang secara perlahan-lahan. Kecuali Azhar?
"Dulu aku bekerja di London sebagai seorang jurnalis. Hidupku sungguh bahagia karena pada saat itu aku bisa membawa ibu bersamaku dan menjalani kehidupan yang luar biasa. Namun, sebuah kecelakaan membuatku harus kehilangan beliau selama-lamanya..." cerita Shuha. Tanpa disadari, air matanya menetes di pipi. Dengan cepat, Shuha menghapus tetesan itu dan mencoba tersenyum kembali padaku.
Aku menelan ludah. "Oh, maafkan aku! Aku tidak bermaksud membuatmu mengingat kesedihan itu..."
"Tidak apa-apa, Ray! Semua orang pasti ingin mendengarnya. Lagipula, tidak ada salahnya berbagi kesedihan dengan orang lain. Siapa tahu kesedihanku akan berubah menjadi sebuah kebahagiaan setelah bertemu denganmu..." jelasnya dengan sangat anggun.
Aku memandang wajah cantik itu. Apakah Shuha sedang mengujiku sekarang? Apakah dia tidak tahu dengan siapa dia berbagi duka itu? Aku adalah orang yang selalu mendambakan suaminya itu. Aku adalah orang yang sebelumnya sangat membenci dirinya.
"Oya, aku juga minta maaf sudah membuatmu tidak nyaman dengan cerita itu..." sambungnya sambil berdiri di sisi tempat tidur.
"Jangan berkata seperti itu! Aku sangat senang jika kau memberiku kesempatan untuk menjadi teman."
Shuha tersenyum. Tak lama kemudian, dia memegang tanganku. "Aku belum mengenal Azhar dengan baik, tetapi aku yakin dia adalah pilihan yang tepat untukku. Kau adalah teman masa kecilnya dan sekarang kembali bersama dengannya, maukah kau menjaganya selama berada di luar rumah dan jauh dariku, Ray?" Suaranya terdengar parau.
Dadaku bergetar. Keringat dingin sepertinya sedang mengucur dengan derasnya. Tanganku ikut dingin mendengar permintaan Shuha.