Akmal mencubit lenganku dengan keras saat kami sedang makan siang di kantin.
"Aaauwww..." jeritku tanpa sadar.
"Sakit?" tanya Akmal dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Menurutmu bagaimana? Enak?" ketusku sembari mengelus lenganku yang masih terasa sakit akibat cubitan itu.
"Maaf, Ray! Aku hanya...."
"Ah, sudahlah!" seruku dengan kesal dan menghentakkan sendok yang ku pegang dengan kuat di atas meja.
"Raya...." Akmal memandangku dengan sangat heran.
"Aku sudah kenyang!" Segera saja ku tinggalkan Akmal dan berlari keluar dari kantin.
"Naraya!!!!" pekik Akmal dengan suara yang sangat kuat memanggilku.
Aku tetap berlari tanpa perduli dengan panggilan itu. Hatiku mulai tidak baik. Mood hari ini juga bergonta-ganti. Semuanya terjadi karena malam itu, saat Azhar dan Shuha berada di dalam ruang rawatku. Mereka berkali-kali memamerkan kemesraan di hadapanku. Tidak punya hati! Bisa-bisanya Azhar membuatku tergores seperti sekarang ini. Kalaupun pria itu tidak tahu tentang perasaanku, tidak semestinya dia bersikap semesra itu dengan Shuha. Namun, ini bukanlah sesuatu yang harus ku sesalkan karena Shuha memang istrinya dan dia berhak melakukan itu padanya.
Sepanjang perjalanan menuju apartemen, aku terus menggerutu hebat di dalam hati. Semua yang tampak di hadapanku harus menjadi korban keganasan mulut ini. Mulai dari lampu merah yang terlalu lama, tukang parkir yang tiba-tiba muncul tanpa diundang, dan tidak adanya uang kembalian saat berbelanja di sebuah supermarket. Padahal, sebelumnya aku adalah orang yang tidak terlalu memusingkan hal-hal seperti itu. Namun, hari ini semuanya berubah. Sejak pemandangan yang menyakitkan itu. Aku sudah sampai di lantai 18 gedung apartemen. Ku langkahkan kaki keluar dari dalam lift. Kepalaku masih menunduk sampai akhirnya aku tertegun di depan pintu apartemenku sendiri.
"K-kau di sini?" tanyaku dengan bola mata yang hampir saja keluar karena tak percaya dengan apa yang ku lihat sekarang.
"Aku ingin bicara, Ray!" seru Azhar yang sudah menunggu di depan pintu.
Aku termangu. Apa yang terjadi padanya? Mengapa dia ada di sini? Mengapa dia ada di depan apartemenku? Darimana dia mengetahui tempat tinggalku? Jantungku berdegup kencang. Ini tak seperti biasanya. Setelah membuka pintu, ku persilahkan dia masuk ke dalam.
"Maaf karena sudah membuatmu menunggu lama. Seharusnya kau memberitahuku dulu sebelum datang ke sini..." ucapku dengan sangat hati-hati.
"Tidak apa-apa!" jawab Azhar tanpa senyum sedikitpun.
Aku meletakkan tas ke atas meja. "Kau ingin minum apa! Akan ku buatkan," ujarku dan beranjak perlahan-lahan ke dapur.
"Tidak usah, Ray!" serunya dan menahan tanganku seketika.
Aku terkejut. Azhar memegang tanganku.
Dia menatapku dengan tajam.
"Oh, baiklah..." jawabku dan melepaskan pegangannya dari tangan. Aku kembali duduk di atas sofa.
"Aku ingin memberitahumu sesuatu..." ujarnya lagi.
Jantungku berdetak semakin kencang. Apa yang ingin dikatakan Azhar padaku? Dia sangat misterius sekarang.
"Kau adalah Naraya Prameswari, alumni SMU Harapan 1 Kota Medan yang duduk di kelas III IPA A. Cita-citamu ingin menjadi seorang Akuntan yang profesional membuatmu sedikit kecewa saat beradu nilai Akuntasi denganku dulu. Kau juga sempat membuatku takjub dengan kepangan ekor kuda yang tampak rapi di pagi hari dan mulai tak beraturan di saat pulang sekolah. Aku akan selalu ingat itu semua, Naraya!" Azhar menatapku dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"K-kau... Kau... Kau mengingatku, Har?"
Azhar mengangguk. "Aku mengingat semuanya."
Air mataku menetes. Dia mengingat semuanya, tetapi bersikap seolah-olah tidak mengenalku sampai hari ini.
"Maafkan aku karena sudah membohongimu selama ini," ucap Azhar dengan senyum manisnya.
Spontan aku memeluknya. Rasa haru bahagia mendekapku dengan kuat. Aku tidak tahu lagi bagaimana harus menghadapi kenyataan ini bahwa ternyata Azhar masih mengingatku.
"Aku melakukan semua ini demi Shuha dan kau."
"Shuha? Aku?" Ku lepas pelukan itu seketika.
"Aku tidak yakin kau akan percaya dengan semua cerita ini. Namun, aku akan mengatakan apa yang seharusnya kau ketahui..." Azhar masih menatapku dengan sangat serius.
Air mataku menetes sedikit demi sedikit.
"Aku menyukaimu sejak kita bersahabat, Ray. Namun, aku tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya. Hari dimana aku harus terbang ke London dan meninggalkan semua cerita indah kita termasuk kau, adalah hari terburuk yang pernah ku miliki." Azhar memegang lenganku dengan keras.
"Kau juga?" tanyaku dengan bibir yang bergetar.