Dia yang Tak Bisa Kuraih

Sasha Q
Chapter #2

Bab 1

Adnan's POV


Untuk ke sepuluh kalinya dalam minggu ini, aku mengunjunginya lagi. Tentu saja tanpa sepengetahuannya. Oh, bukan, bukan. Ini bukan stalking. Aku tahu kedengarannya sedikit tidak pantas. Membuntuti seorang wanita pada malam hari memang sekilas terlihat seperti sesuatu yang hanya dilakukan oleh cowok brengsek. Tapi, aku berani bersumpah, aku bukanlah seorang penguntit. Namun, sesuatu dalam diriku mengatakan bahwa dia menyadari kehadiranku. Dia hanya tak ingin berurusan lagi denganku. Jadi, dia terus berjalan sambil menutup mulutnya rapat-rapat, tidak sekalipun menoleh ke belakang, ke tempatku berada. Tapi, itu tak apa. Toh aku juga sudah tak butuh perhatiannya lagi. Meskipun aku masih … mabuk kepayang setiap kali hatiku menyebut namanya. Maka dari itu kau mungkin akan jarang mendengar namanya kusebut-sebut.

Nah, sudah cukup basa-basinya. Sekarang aku akan menceritakan tentang wanita ini. Wanita yang merupakan pemeran utama dalam kisah ini. Dalam hidupku. Setelah lima langkah kecil akhirnya dia duduk di bangku taman yang berusia lebih dari satu dekade, tapi kau tak akan menyadarinya karena baru kemarin mereka mengecatnya menjadi warna hijau. Kalau kau tidak keberatan, aku akan menyampaikan opiniku tentang warna baru bangku itu. Jelek! Bukannya aku pembenci warna hijau, hanya saja, Gwen membenci warna itu. Tunggu. Aku baru saja menyebut namanya. Ah, aku jadi mabuk kepayang.

Biar aku ceritakan dulu bagaimana awalnya.

Waktu itu kami masih sama-sama berusia 19 tahun. Masih sama-sama polos. Masih sama-sama memasuki semester 2 perkuliahan. Bedanya, dia masuk secara mandiri dan membayar UKT kuliah dengan uang orangtuanya, sedangkan aku mendapatkan beasiswa. Perbedaan lainnya cukup banyak. Dia mengambil jurusan DKV, aku memilih sastra Indonesia. Dia cantiknya luar biasa, aku biasa saja. Oh, ada satu lagi kesamaan kami yang hampir saja lupa kusebutkan. Kami berdua sama-sama lahir dari keluarga yang religius. Yang berbeda hanyalah, dia Kristen dan aku Islam.

Awalnya aku mendengar dari teman-temanku bahwa ada seorang mahasiswi jurusan DKV yang—aku mengutip perkataan mereka—“cantiknya di luar nalar”. 19 tahun diriku tak peduli dengan yang namanya pacaran. Aku datang dari keluarga yang, kalau sampo habis saja kami menambahkan air lagi lewat lubangnya, lalu kami kocok botolnya sampai berbusa biar kami tak usah beli yang baru. “Hidup kita menyedihkan sekali,” kataku pada Ibu saat dia mengajariku cara itu untuk pertama kalinya. Lalu dengan cengiran dia membalas, “Ini tidak menyedihkan, ini jenius!”. Maka dari itu aku berjanji untuk fokus pada pendidikan dan mengangkat derajat keluargaku.

Teman-temanku memberikan foto Gwen sebagai bukti bahwa dia cantik. Dan, dia memang cantik. IQ kau pasti setara dengan gorila kalau kau tidak sependapat denganku. Tapi, aku tidak tertarik padanya. Apalagi setelah kudengar dari teman-temanku bahwa dia orang yang cuek dan susah didekati. Beberapa dari mereka sudah mencoba untuk PDKT dengan Gwen, tapi semuanya gagal.

Beberapa bulan kemudian, aku berniat untuk mengerjakan tugas di taman dekat kampus. Aku mendekati bangku taman yang ada di sana. Yang pertama kali muncul dalam benakku adalah betapa jeleknya bangku itu. Waktu itu warnanya masih merah bata dan catnya sudah terkelupas di sana-sini. Tapi, kemudian fokusku berpindah pada seseorang yang duduk di atasnya. Gwen terlihat begitu memesona saat menggambar di buku sementara matahari menumpahkan seluruh cahaya ke arahnya seakan dia adalah seorang pemeran utama yang sedang tampil di panggung teater.

Rambutnya hitam mengkilap, pendek sebahu, dan sedikit bergelombang. Aku memperhatikan beberapa helai bayi rambutnya berkeringat, menunjukkan betapa dia terlalu fokus dengan karyanya sampai-sampai dia lupa mengelap dahinya.

Dunia di sekitarku berubah gelap. Satu-satunya cahaya yang dapat kulihat adalah dirinya. Ada begitu banyak hal yang terjadi di sini, tapi perhatianku hanya tertuju padanya. Itu pertama kalinya aku berhadapan dengannya langsung. Dan, kau bisa bilang aku norak, tapi, aku sungguh serius saat aku mengatakan bahwa aku jatuh cinta pada pandangan pertama.

“Adnan, ya?”

Aku mengedipkan mata kuat-kuat untuk kembali dari lamunanku dan dalam sekejap dia sudah berada di depanku. Aku menelan ludah untuk mengatasi rasa gugup. Aku tak tahu harus bilang apa. Sejak SD kita tak pernah diajari bagaimana caranya bicara depan seorang gadis.

“Eh, iya,” kataku terbata-bata.

Lihat selengkapnya