Gwen’s POV
Aku duduk di kursi taman tua ini, tempat di mana daun-daun gugur begitu saja tanpa peduli siapa yang melihat. Kursi ini tidak berubah, dengan catnya yang terkelupas, besinya yang berkarat di beberapa sudut, dan bunyi berdecit setiap kali aku menggeser posisi duduk. Aku tersenyum kecil, meski hati ini terasa berat. Di sinilah aku pertama kali melihat Adnan, dan di sinilah cerita itu dimulai.
Aku menggenggam jurnal milik Adnan. Di dalamnya ada banyak catatan dan puisi. Dia pandai menulis. Aku selalu menyukai bagaimana caranya merangkai kata-kata. Dia jarang bicara, dan kurasa dia memang selalu menuangkan perasaannya ke dalam tulisan. Dari banyaknya puisi yang dia tulis, aku punya satu yang menjadi favoritku. Kurasa puisi ini ditulis pada saat awal-awal pertemuan kami. Aku mengetahuinya karena di halaman sebelumnya dia menulis: apa dia bisa melihatku dari bangku ituuu? apa yang harus kulakukan?? tulis puisi saja…?
Setiap kali aku menutup mata, aku kembali ke masa itu. Awal kami bertemu. Dia ada di sana. Berdiri di hadapanku sementara sinar matahari membingkai dirinya. Tanpa rasa malu, aku langsung memanggil namanya.
Aku ingin tertawa setiap kali mengingatnya. Ekspresi yang dia buat selalu lucu. Dia terlihat kaget saat kupanggil. Mungkin dia kebingungan bagaimana aku bisa tahu namanya.
“Teman-temanku sering membicarakan tentangmu,” aku menjelaskan setelah kami sama-sama duduk. “Katanya kau pintar dan rajin.”
Dia terkekeh. “Ah, yang benar? Itu hanya desas-desus saja.”
“Kata mereka sih, tapi kelihatannya begitu, kok.”
Wajahnya menjadi kaku. “Benarkah? Aku terlihat pintar menurutmu?”
Aku tersenyum dan mengangguk. Bagaimana tidak? Dia terlihat seperti kutu buku sejati. Kira-kira dia tujuh sentimeter lebih tinggi dariku. Proporsi tubuhnya kurus, tapi terlihat sehat. Kulitnya cokelat manis. Rambutnya sedikit keriting, satu-dua helai jatuh di atas matanya, menyapu bulu matanya yang lentik. Dia memakai kemeja lengan panjang dan kacamata yang nampaknya kebesaran dan perlu diganti dengan yang baru. Dia adalah tipe orang yang akan kau mintai contekan di kelas. Sedangkan wanginya—ini mungkin terdengar aneh dan sangat sulit dijelaskan—wangi Adnan seperti aroma rintik hujan pertama yang jatuh di padang rumput yang luas—menyegarkan, murni, dan menenangkan.
Dia membuka laptopnya yang sedari tadi berada di pangkuannya. Aku melihat jarinya membuka file, layar menampilkan sebuah tulisan. Aku berasumsi itu adalah tugasnya.
“Mereka bilang kau jago menulis,” kataku, mencoba membuka obrolan lagi.
Adnan menoleh sekilas, sedikit terkejut. “Serius mereka bilang begitu?” tanyanya pendek, suaranya datar.
“Yup,” jawabku santai sambil meletakkan buku sketsa di pangkuanku. “Mereka bilang, kalau ada yang mau belajar bikin essay atau butuh ide buat tulisan, kamu orangnya.”