Adnan’s POV
Gwen terlihat murung sambil memegang jurnalku. Ia membukanya dan aku bisa melihat puisiku yang belum selesai kutulis untuknya. Kurasa itu puisi favoritnya. Aku penasaran apa alasannya. Padahal puisi yang kutulis itu terdengar begitu norak karena saat itu aku baru belajar menulis puisi. Mungkin karena itu adalah puisi pertamaku untuk Gwen, yang mengingatkannya pada awal-awal perkenalan kami. Biar aku kembali ke masa lalu.
Setelah dia bertanya apa aku mau nongkrong dengannya siang itu di taman, kami jadi sering bertemu. Teman-teman kami juga saling mengenal. Awalnya ada begitu banyak orang di sekitar kami, sehingga aku tak bisa dengan leluasa berbincang dengannya. Namun, lama kelamaan kami semakin nyaman untuk nongkrong berdua saja.
Namun, ada hal yang membuatku semakin menyukainya. Gwen bukan sekadar berparas cantik, tapi dia memiliki hati yang baik. Dia berani melawan orang-orang yang tidak benar dan membela mereka yang tertindas.
Kampus kami berada di dekat lampu merah. Suatu saat aku sudah sangat terlambat menuju kelas. Tapi, aku melihat orang-orang mengerumuni jalan di dekat lampu merah. Aku berdesakan melewati kerumunan dan melihatnya di tengah-tengah jalan. Gwen penuh amarah. Aku bertanya ke orang di sampingku apa yang terjadi. Ia menjelaskan seseorang dengan motor matic baru saja menerobos lampu merah, hampir menabrak seorang nenek yang berjalan lambat.
“Eh, lo nggak bisa baca lampu merah, ya?” Gwen berteriak pada pengendara itu.
Orang itu melirik malas, mengangkat bahu. "Santai saja, Mbak. Nggak ada polisi, kan?"
Aku melihat Gwen mendekat, berdiri tegap di depan motor itu. "Polisi atau nggak, aturan tetap aturan. Kalau lo nggak peduli sama nyawa orang lain, setidaknya peduli sama nyawa lo sendiri."
Pengendara itu terlihat semakin kesal, tangannya mengepal kuat membentuk tinju. Aku siap-siap mendekat, berniat menyelamatkan Gwen kalau-kalau si pengendara berani main tangan.
Gwen melihat kemarahan pengendara yang memuncak itu. “Apa lo? Mau mukul gue? Sini pukul!” Gwen menampar pipinya sendiri, menantang si pengendara motor.
Pengendara itu menggerutu, tapi akhirnya memutar motor dan pergi. Gwen berbalik, matanya penuh kemarahan bercampur frustasi.
Ternyata gadis itu tidak perlu diselamatkan. Dia bisa menyelamatkan dirinya sendiri.
Aku menghampiri, tidak bisa menahan tawa kecil. "Kau ini seperti polisi lalu lintas dadakan, tahu tidak?"
Gwen memutar bola matanya, tapi senyum tipisnya muncul. "Kadang, satu orang harus berisik biar orang lain sadar."
Aku menatapnya lama, mengagumi keberanian dan rasa keadilan yang selalu terpancar dari setiap tindakan Gwen.
Di lain waktu, aku sedang berjalan kaki sehabis pulang kuliah dan menemukan mobilnya terparkir sembarangan. Rupanya sang pemilik tengah mendekati sekelompok anak kecil di bawah pohon besar.
Di tengah mereka, seekor anak anjing kurus sedang dikelilingi. Anak-anak itu tertawa, salah satunya mengacungkan tongkat kecil, mencoba menyentuh hidung si anjing. Anak anjing itu melongos, ketakutan, dan mulai meringkuk.
Gwen langsung berdiri di antara mereka, tangannya terangkat, menghentikan mereka. “Hey, kalian tidak lihat dia ketakutan, ya?” suaranya tegas.
Anak-anak itu terdiam, tampak bingung. Salah satu dari mereka bersikeras, “Kita cuma main-main, Kak.”
Gwen berjongkok, mencoba menenangkan anak anjing itu yang menggigil. “Kalau kalian mau main, ada banyak caranya. Tapi tidak begini. Kalau dia marah atau gigit kalian, siapa yang salah?” katanya sambil menatap mereka satu per satu.
Anak-anak itu menunduk, mulai merasa bersalah. “Maaf, Kak,” salah satu dari mereka bergumam, sebelum akhirnya mereka pergi.
Aku mendekat saat Gwen menggendong anak anjing itu, matanya penuh kelembutan. “Kau tidak takut digigit?” tanyaku sambil menahan senyum.